BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM...

Sabtu, April 25, 2009

LDK UPIM UNTAD


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

PROFIL LEMBAGA DAKWAH KAMPUS UPIM (Unit Pengkajian Islam Mahasiswa)UNIVERSITAS TADULAKO

Sejarah singkat
Dalam perspektif hisrorisnya, keberadaan UPIM bermula dari adanya kerisauan sekalangan pemuda yg mempunyai kepedulian yg tinggi terhadap dakwah di kampus. Padamulanya mereka tdk memilki hubungan struktural dng pihak kampus(blm Legal), hal tersebut menimbulakn banyak dinamika sampai kemudian lahirlah sebuah Organisasi Lembaga dakwah Kampus (LDK) UPIM Legal dan menjadi salah satu UKM yg ada di UNIVERSITAS TADULAKO.
Kepemimpinan
Kepemimpinan UPIM diawal pembentukannya tdk diketahui dng jelas hingga sampai pada bulan juli 1999 diadakan mubes LDK UPIM, dan terpilihlah pd saat itu Saudara Farhan, kemudian setahun berikutnya saudara Mukhlis periode 2000-2001, saudara Rusman 2002 2003, saudara Arman 2003-2004, saudara Moh.Iqbal Podungge 2004-2005 dan saudara Adrianto untuk periode 2005-2006.
Visi
SEBAGAI WADAH PENYEMAI DAN PENEBAR IDE, PENDAPAT DAN PEMIKIRAN ISLAM SERTA MEMBENTUK KADER DAKWAH KAMPUS YANG PROGRESIF AKTIF DAN DINAMIS SERTA MEMILIKI KEPRIBADIAN ISLAMI

Pola Kaderisasi
(Rekrutmen Kader)
•Melalui Sarana SII (Study islam Intensif)
•Mentoring

Renungkanlah!
•Musibah terbesar adalah Keputusasaan
•Dosa terbesar adalah Ketakutan
•Misteri terbesar adalah Kematian
•Kehormatan terbesar adalah Kesetiaan
•Keberanian terbesar adalah Kesabaran
•Modal terbesar adalah Kemandirian
•Sumbangan terbesar adalah Berpartisipasi
•Karunia terbesar adalah Anak yang Sholeh/ah
•Guru terbaik adalah Pengalaman
•Rekreasi terbaik adalah Bekerja


DMS MPM al-Iqra featuring BKM UPIM Untad

PALU- Mahasiswi yang tergabung dalam Bidang Kemuslimahan Mahasiswa Pencinta Mushalah (MPM) al-Iqra Fakultas Ekonomi (Fekon) Untad berkolaborasi dengan Departemen Kemuslimahan Lembaga Dakwah Kampus Unit Pengkajian Islam Mahasiswa (Depkem LDK UPIM) Untad, dalam penyelenggaraan Daurah Mar’atus Sholihah (DMS) yang berarti Pelatihan Wanita Sholihah, Sabtu (25/4) kemarin lusa. Kegiatan DMS yang dikoordinatori oleh Putri Aisiyah (MPM Fekon) berkolaborasi dengan Bengkel Kreatif Mahasiswa (BKM) yang dicetus oleh St. Rahmawaty Labolo (Koordinator Depkem UPIM) tersebut, sukses digelar di Gedung Auditotrium Untad.
Daurah ini digelar untuk menjalin ukhuwah (kerukunan) di antara muslimah (wanita muslim, red) di Kota Palu khususnya di Untad, agar menyatukan halaqah atau pemahaman ajaran Islam yang berbeda, dan menciptakan suasana dakwah sebagai obliged job atau tugas wajib bagi setiap muslim-muslimah. Berdasarkan laporan ketua panitia pelaksana, Astuti Lasudju, pelatihan ini terlaksana berkat bantuan fasilitas moral dan moril dari pihak Untad, LDK UPIM dan dari MPM al-Iqra Fekon sendiri.

Putri yang mendapat kesempatan pertama memberi sambutan, ia sangat berharap kegiatan DMS tersebut dapat digelar kembali di lain kesempatan.
“Saya sebagai koordinator Bidang Kemuslimahan sangat berharap kegiatan daurah seperti ini dapat dilaksanakan oleh MPM-MPM lain dan tidak akan berhenti sampai di sini saja, seperti tema kita pada kali ini yaitu ‘Dakwah Kita Belum Selesai, Wahai Saudariku’,” ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Rahmawaty, kemudian ia mengungkapkan bahwa setiap muslimah harus mengenal siapa dirinya serta potensi apa yang dimilikinya. Sehingga seorang muslimah itu, mampu mengembangkan dan memanfaatkan setiap bakat dan kelebihan yang ada dalam dirinya.

“Teman-teman mungkin ingin seperti Ibu Kartini, mungkin ingin menjadi wanita cerdas seperti Aisyah ra., atau seperti Asma Nadia yang tidak hanya sukses sebagai entrepreneur tetapi juga sebagai seorang penulis handal. Ini adalah wanita-wanita sukses yang patut kita teladani bersama!” jelas mahasiswi yang akrab dipanggil Ama ini.

DMS featuring BKM ini menghadirkan tiga (3) orang ustadzah sebagai penyaji materi. Andi Sukmawati SE, menyajikan halaqah tentang Konsep Diri Muslimah, Hj Rahmawati Latief M Soc Sc, membawakan halaqah Problematika Muslimah dan Solusinya, terakhir halaqah tentang Muslimah Bebas Finansial yang disajikan oleh Aini Firdaus SIP. Ketiga ustadzah tersebut begitu aktif, eksploratif dan persuasif dalam menyampaikan pesan moral, serta segala sesuatu yang mereka ketahui mengenai problematika muslimah atau keakhwatan (kewanitaan, red), kepada para peserta.

Sukma mencoba memberikan gambaran kepada peserta, bagaimana sosok seorang muslimah yang baik, sholihah, dan mampu berdakwah sesuai koridor yang ditetapkan Islam, di dalam al-Qur’an dan Hadist.

Dewasa ini, begitu banyak problematika muslimah yang muncul ke permukaan. Menurut Rahmawati, problematika tersebut dapat digolongkan ke dalam lima (5) dimensi yaitu, dimensi aqidah, dimensi ibadah, dimensi fikrah, dimensi akhlak dan dimensi berjama’ah.
“Seluruh problem tersebut, insya Allah dapat dituntaskan dengan sikap diri kita untuk selalu rilah (memperbaiki) diri, seperti istiqomah yaitu konsisten terhadap Allah, tegar di atas Al-Quran dan Assunnah, selalu menganggap ujian adalah sunnatullah (QS. 29: 2-3), mencari solusi ujian dari Allah QS. 2: 286, 2: 45-46, 12: 87, 3: 173), serta mencoba konsisten dengan tarbiyah dan dakwah!” ungkap ustadzah yang hebat beretorika ini.



Halaqah yang membuat muslimah mampu mengelola keuangan dengan baik, disampaikan oleh Aini secara gamblang. Ia memberikan tips jitu dalam mengelola keuangan, yang pertama yaitu membuat perencanaan keuangan, membuat klasifikasi antara kewajiban, kebutuhan dan keinginan, serta disiplin dengan rencana yang telah kita buat tersebut.
Menurut Aini, materi yang disampaikannya begitu penting untuk diketahui seluruh muslim-muslimah.
“Sebab, llmu mengenai hal ini tidak di ajarkan di sekolah, sementara hampir setiap muslimah adalah calon manager rumah tangga, kemudian keberhasilan kita dalam manajemen keuangan saat ini akan mendukung keberhasilan kehidupan kita di masa yang akan datang!” ungkapnya begitu meyakinkan.

Pada pelatihan kali ini, terlihat cukup banyak peminatnya. Hal ini dibuktikan dalam daftar hadir panitia pelaksana, acara ini dihadiri oleh 52 peserta yang terdiri dari mahasiswi Untad, serta dari Universitas Swasta lainnya. Ditambah lagi, ada kurang lebih 20 orang mahasiswi yang tergabung dalam kepanitiaan acara, sehingga memadati ruangan belakang auditorium yang disediakan. Asyiknya lagi, daurah ini diselingi kegiatan bazar pernak-pernik dan buku-buku kemuslimahan.


Ada satu pesan moral yang begitu penting untuk direnungi oleh seorang muslimah melalui pelatihan yang diselenggarakan selama kurang lebih enam jam ini yaitu, berusaha lah mengenali jati diri, bakat dan potensi diri kita untuk menjadi muslimah yang unggul. Bagaimana kita memenuhinya? Tentu saja dengan menentukan visi dan misi kita secara jelas, sehingga menjadi pribadi yang unggul di bidang akademik, organisasi, maupun sukses membantu dan berbakti kepada orangtua kita. (Yuli_Supel)

Senin, April 20, 2009

LASKAR PELANGI DAN PELAJARAN BUAT KITA

Peluncuran film laskar pelangi yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata, tak tanggung membuat gempar masyarakat Indonesia, walau demam film tersebut baru dapat dirasakan masyarakat kota Palu akhir-akhir ini. Ditengah kegersangan akan film-film yang bertema pendidikan, Laskar Pelangi seakan menjadi oase di tengah padang pasir yang menjadi penyejuk kahausan masyarakat Indonesia, maklum selama ini kitaa dihidangkan dengan tontonan yang jauh dari nilai pendidikan, sehingga boming serta antusiasme masyarakat yang sangat tinggi untuk membaca dan menyaksikan film dan novel Laskar Pelangi merupakan bertanda bahwa memang masyarakat kita sangat haus dengan film seperti ini.

Laskar Pelangi telah mengajari kita akan benyak hal, pelajaran tentang pengorbanan, pengabdian yang tak mengenal pamrih, hingga harapan anak-anak miskin yang tak pernah padam untuk meraih asa, mencoba mendobrak pemikiran mereka yang berkata “Orang miskin dilarang sekolah”. Andrea seakan ingin berkata, bahwa kemiskinan bukan menjadi penghalang untuk bercita-cita, sebab semua orang tentu punya harapan tidak terkecuali bagi mereka yang miskin, walau pada akhirnya dalam cerita tersebut tokoh lintang, seorang anak jenius, “hasil didikan alam” harus rela mengubur impiannya, tentunya kita berharap tidak akan ada lagi lintang-lintang baru yang harus mengakhiri pendidikan karena biaya...

Laskar Pelangi telah membuka mata kita semua, bahwa pendidikan benar-benar adalah hak seluruh bangsa, yang tidak hanya sebagai kata-kata indah penghias Undang-undang namun, juga mesti dijawentahkan dalam bentuk aplikasi nyata, sebab masih banyak anak-anak negeri ini yang bernasib serupa seperti lintang, mengalami hal sama seperti ibu muslimah dan pak harfan, yang memilik talenta seperti mahar, yang perlu diperhatikan oleh negara untuk memajukan bangsa ini. Inilah yang masih terasa sulit dinegeri ini, dimana mendapatkan pendidikan belum batul-batul menjadi hak warga negaranya, kita belum bisa menuntut bila tidak mendapatkan pendidikan, belum bisa terlalu berharap kalau negara akan membantu bila tak mampu menempuh pendidikan, pendidikan kita saat ini hanya bagi mereka yang berduit, sedang yang tak berduit tak usah bermimpi untuk belajar apa lagi menembus perguruan tinggi.

Fenomena Laskar Pelangi seharusnya dapat menjadi pembelajaran bagi seluruh masyarkat Indonesia, baik orang tua, guru, hingga para praktisi perfilman untuk melahirkan karya-karya yang bermutu dan mencerdaskan, kita dapat belajar dari jepang, bagaimana mereka menggunakan media sebagai sarana guna mencerdaskan warganya, konon film Kapten Tsubatsa di buat guna memberikan support terhadap atlet sepak bola jepang yang ketika itu tampil di piala dunia, berbanding jauh dengan kita yang cenderung menjadikan media sebagai alat pembodohan masyarakat, film-film yag berbau pornografi, kekerasan,mistik masih menjadi menu utama media kita saat ini, terlebih media TV.

PENULIS ADALAH ARY FACHRY ALKILARI, SALAH SATU PENGURUS LDK UPIM UNTAD (KOORD.DEPARTEMEN KADERISASI)


DAKWAH NEVER DIE

Hendaklah ada segolongan dintara kamu yang menyeru

Pada yang ma’ruf dan mencegah terhadap

Kemungkaran


Putaran roda dunia ini terus bergerak sesuai dengan kehendak-Nya seiring dengan segala kejadian-kejadian yang telah berlallu dan terlewati. Hanya orang-orang yang berpikir yang mampu menjadikan segala kejadian telah lewat untuk dijadikan ibrah diri ke arah yang lebih komprehensif. Sosok insan ulul albab yang digambarkan dalam Al-Qur’an, yang menjadi patokan perfect dalam berkehidupan, dan salah satu ciri dari insan ulul albab yakni dilihat dari sisi amar ma’ruf nahi munkarnya (red: Dakwah) dalam hal ini dilihat pada aspek keprogresifannya dalam mengusung amanah dakwah.

Pun demikian, konsep insan ulul albab yang terdapat dalam Al-Qur’an terkadang tidak terpahami oleh sebagian kalangan. Yang bermuara pada ketidakloyalan terhadap proses percepatan syiar islam (dakwah; amar ma’ruf nahi mungkar). Terlepas dari semua pelbagai macam penafsiran, serta ciri-ciri yang lainnya akan insan ulul albab. Kita coba untuk memfokuskan diri pada kondisi real umat islam saat ini, terkhusus generasi muda islam.

Jalan dakwah bukanlah jalan yang lurus dan mulus, tetapi suatu jalan yang penuh onak dan duri dan itu adalah sunnatullah. Justru dengan begitulah kita kan menemukan makna sebenarnya dari dakwah itu sendiri.

Segala bentuk rintangan dan hambatan yang kita rasakan saat ini, tentunya belumlah seberapa besar hebatnya dengan proses dakwah Rasulullah SAW. Namun perlu kita pertanyakan kembali, Apakah setelah melihat rintangan tersebut kemudian hati menjadi lemah? Sesungguhnya ini bukanlah sikap mukmin dan mukminah sejati. Oleh karena itu sangatlah diperlukan kesiapan mental, keikhlasan, kesabaran, dan keteguhan jiwa untuk menapaki jalan ini. Tidak sedikit contoh yang dapat kita saksikan saat ini dimana hanya karena derasnya desakan duniawi yang begitu kuat nan melenakan hati, yang kemudian memberikan efek samping (red:dampak negatif) terhadap para aktivis dakwah menjadi futur kemudian berpaling dari jalan dakwah ini.

Dakwah bukanlah pilihan akan tetapi bagian dari keharusan. Persoalannya kemudian, apakah kita menyadari akan keharusan itu?? Rasulullah yang merupakan nabi akhir zaman kini telah tiada, apakah risalahnya akan berhenti pada masanya? Pada konteks saat ini yang menjadi penerus risalah mereka (red:para nabi dan rasul) adalah kita ikhwah.

Berdakwah merupakan rangkaian dari peran-peran kenabian. Ingat....! “mengurusi dakwah adalah bentuk implementasi dari peran-peran kenabian, maka berbahagialah mereka-mereka yang bersedia meluangkan waktunya untuk menjadi pengurus dakwah (terkhusus dakwah kampus)”.

Perjuangan tuk memantik api revolusi (red:kebangkitan islam) bukanlah suatu hal yang tidak beralasan. Ending dari dakwah kita, seharusnya terpusat pada eksisnya nilai-nilai keislaman yang dimana ibadah tidak lagi dijadikan hanya sebatas rutinitas ritual religius semata. Intinya merupakan upaya revitalisasi peran generasi muda dalam percepatan pembangunan bangsa serta syiar islam. Seorang Nabi dan Rasul tidaklah mungkin diutus kemuka bumi jika bukan karena revolusi.

Sebagai muslim sejati, senantiasa rasa optimis yang besar akan kepastian janji Allah bersemayam dalam diri dan terbingkai rapi dalam setiap langkah gerak kita. Pernyataan optimisme tentang kebangkitan islam ini terangkum indah melalui kalimat yang diungkapkan oleh Syaikh yusuf Qardhawy dalam ceramahnya,”saya percaya bahwa janji Allah ini insya Allah akan terwujud kembali. Jika waktu pembebasan konstatinopel dilakukan dengan pedang, maka berbeda dengan pembebasan Eropa nantinya yakni dengan dakwah. Oleh dakwah yang membebaskan akal manusia dari berbagai macam materialisme, oleh berbagai macam penyakit hedonisme.

Dalam upaya kebanngkitan islam tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu adanya aktor kebangkitan yang siap untuk menyiapkan segala macam perangkat-perangkat pendukung kebangkitan. Proyek dakwah ini mesti kita ambil dan kita jalankan yang tentunya tetap dalam bingkai keoptimisan akan janji Allah ini, keistiqamahan,serta semangat yang membara. Terus bergerak tuk menuntaskan perubahan, mari bersama kita menyusun dengan rapi “batu bata” bangunan izzah islam wal muslimin.

Sebab, dalam dakwah tidak boleh lelah, tatkala kelelahan dalam berdakwah bersemayam dalam diri kita, maka kembali kuatkan azzam bahwa dengan keikhlasan segalanya kan menjadi bernilai ibadah. ¤

¤ Penullis adalah aktivis Lembaga Dakwah Kampus. Saat ini sedang menimbah ilmu di universitas tercinta Untad.

seNd yOur criTiCs N adViCes pLiZzz...!

Your Name :
Your Email :
Subject :
Message :
Image (case-sensitive):