Hendaklah ada segolongan dintara kamu yang menyeru
Pada yang ma’ruf dan mencegah terhadap
Kemungkaran
Putaran roda dunia ini terus bergerak sesuai dengan kehendak-Nya seiring dengan segala kejadian-kejadian yang telah berlallu dan terlewati. Hanya orang-orang yang berpikir yang mampu menjadikan segala kejadian telah lewat untuk dijadikan ibrah diri ke arah yang lebih komprehensif. Sosok insan ulul albab yang digambarkan dalam Al-Qur’an, yang menjadi patokan perfect dalam berkehidupan, dan salah satu ciri dari insan ulul albab yakni dilihat dari sisi amar ma’ruf nahi munkarnya (red: Dakwah) dalam hal ini dilihat pada aspek keprogresifannya dalam mengusung amanah dakwah.
Pun demikian, konsep insan ulul albab yang terdapat dalam Al-Qur’an terkadang tidak terpahami oleh sebagian kalangan. Yang bermuara pada ketidakloyalan terhadap proses percepatan syiar islam (dakwah; amar ma’ruf nahi mungkar). Terlepas dari semua pelbagai macam penafsiran, serta ciri-ciri yang lainnya akan insan ulul albab. Kita coba untuk memfokuskan diri pada kondisi real umat islam saat ini, terkhusus generasi muda islam.
Jalan dakwah bukanlah jalan yang lurus dan mulus, tetapi suatu jalan yang penuh onak dan duri dan itu adalah sunnatullah. Justru dengan begitulah kita kan menemukan makna sebenarnya dari dakwah itu sendiri.
Segala bentuk rintangan dan hambatan yang kita rasakan saat ini, tentunya belumlah seberapa besar hebatnya dengan proses dakwah Rasulullah SAW. Namun perlu kita pertanyakan kembali, Apakah setelah melihat rintangan tersebut kemudian hati menjadi lemah? Sesungguhnya ini bukanlah sikap mukmin dan mukminah sejati. Oleh karena itu sangatlah diperlukan kesiapan mental, keikhlasan, kesabaran, dan keteguhan jiwa untuk menapaki jalan ini. Tidak sedikit contoh yang dapat kita saksikan saat ini dimana hanya karena derasnya desakan duniawi yang begitu kuat nan melenakan hati, yang kemudian memberikan efek samping (red:dampak negatif) terhadap para aktivis dakwah menjadi futur kemudian berpaling dari jalan dakwah ini.
Dakwah bukanlah pilihan akan tetapi bagian dari keharusan. Persoalannya kemudian, apakah kita menyadari akan keharusan itu?? Rasulullah yang merupakan nabi akhir zaman kini telah tiada, apakah risalahnya akan berhenti pada masanya? Pada konteks saat ini yang menjadi penerus risalah mereka (red:para nabi dan rasul) adalah kita ikhwah.
Berdakwah merupakan rangkaian dari peran-peran kenabian. Ingat....! “mengurusi dakwah adalah bentuk implementasi dari peran-peran kenabian, maka berbahagialah mereka-mereka yang bersedia meluangkan waktunya untuk menjadi pengurus dakwah (terkhusus dakwah kampus)”.
Perjuangan tuk memantik api revolusi (red:kebangkitan islam) bukanlah suatu hal yang tidak beralasan. Ending dari dakwah kita, seharusnya terpusat pada eksisnya nilai-nilai keislaman yang dimana ibadah tidak lagi dijadikan hanya sebatas rutinitas ritual religius semata. Intinya merupakan upaya revitalisasi peran generasi muda dalam percepatan pembangunan bangsa serta syiar islam. Seorang Nabi dan Rasul tidaklah mungkin diutus kemuka bumi jika bukan karena revolusi.
Sebagai muslim sejati, senantiasa rasa optimis yang besar akan kepastian janji Allah bersemayam dalam diri dan terbingkai rapi dalam setiap langkah gerak kita. Pernyataan optimisme tentang kebangkitan islam ini terangkum indah melalui kalimat yang diungkapkan oleh Syaikh yusuf Qardhawy dalam ceramahnya,”saya percaya bahwa janji Allah ini insya Allah akan terwujud kembali. Jika waktu pembebasan konstatinopel dilakukan dengan pedang, maka berbeda dengan pembebasan Eropa nantinya yakni dengan dakwah. Oleh dakwah yang membebaskan akal manusia dari berbagai macam materialisme, oleh berbagai macam penyakit hedonisme.
Dalam upaya kebanngkitan islam tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu adanya aktor kebangkitan yang siap untuk menyiapkan segala macam perangkat-perangkat pendukung kebangkitan. Proyek dakwah ini mesti kita ambil dan kita jalankan yang tentunya tetap dalam bingkai keoptimisan akan janji Allah ini, keistiqamahan,serta semangat yang membara. Terus bergerak tuk menuntaskan perubahan, mari bersama kita menyusun dengan rapi “batu bata” bangunan izzah islam wal muslimin.
Sebab, dalam dakwah tidak boleh lelah, tatkala kelelahan dalam berdakwah bersemayam dalam diri kita, maka kembali kuatkan azzam bahwa dengan keikhlasan segalanya kan menjadi bernilai ibadah. ¤
¤ Penullis adalah aktivis Lembaga Dakwah Kampus. Saat ini sedang menimbah ilmu di universitas tercinta Untad.