BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM...

Senin, April 20, 2009

LASKAR PELANGI DAN PELAJARAN BUAT KITA

Peluncuran film laskar pelangi yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata, tak tanggung membuat gempar masyarakat Indonesia, walau demam film tersebut baru dapat dirasakan masyarakat kota Palu akhir-akhir ini. Ditengah kegersangan akan film-film yang bertema pendidikan, Laskar Pelangi seakan menjadi oase di tengah padang pasir yang menjadi penyejuk kahausan masyarakat Indonesia, maklum selama ini kitaa dihidangkan dengan tontonan yang jauh dari nilai pendidikan, sehingga boming serta antusiasme masyarakat yang sangat tinggi untuk membaca dan menyaksikan film dan novel Laskar Pelangi merupakan bertanda bahwa memang masyarakat kita sangat haus dengan film seperti ini.

Laskar Pelangi telah mengajari kita akan benyak hal, pelajaran tentang pengorbanan, pengabdian yang tak mengenal pamrih, hingga harapan anak-anak miskin yang tak pernah padam untuk meraih asa, mencoba mendobrak pemikiran mereka yang berkata “Orang miskin dilarang sekolah”. Andrea seakan ingin berkata, bahwa kemiskinan bukan menjadi penghalang untuk bercita-cita, sebab semua orang tentu punya harapan tidak terkecuali bagi mereka yang miskin, walau pada akhirnya dalam cerita tersebut tokoh lintang, seorang anak jenius, “hasil didikan alam” harus rela mengubur impiannya, tentunya kita berharap tidak akan ada lagi lintang-lintang baru yang harus mengakhiri pendidikan karena biaya...

Laskar Pelangi telah membuka mata kita semua, bahwa pendidikan benar-benar adalah hak seluruh bangsa, yang tidak hanya sebagai kata-kata indah penghias Undang-undang namun, juga mesti dijawentahkan dalam bentuk aplikasi nyata, sebab masih banyak anak-anak negeri ini yang bernasib serupa seperti lintang, mengalami hal sama seperti ibu muslimah dan pak harfan, yang memilik talenta seperti mahar, yang perlu diperhatikan oleh negara untuk memajukan bangsa ini. Inilah yang masih terasa sulit dinegeri ini, dimana mendapatkan pendidikan belum batul-batul menjadi hak warga negaranya, kita belum bisa menuntut bila tidak mendapatkan pendidikan, belum bisa terlalu berharap kalau negara akan membantu bila tak mampu menempuh pendidikan, pendidikan kita saat ini hanya bagi mereka yang berduit, sedang yang tak berduit tak usah bermimpi untuk belajar apa lagi menembus perguruan tinggi.

Fenomena Laskar Pelangi seharusnya dapat menjadi pembelajaran bagi seluruh masyarkat Indonesia, baik orang tua, guru, hingga para praktisi perfilman untuk melahirkan karya-karya yang bermutu dan mencerdaskan, kita dapat belajar dari jepang, bagaimana mereka menggunakan media sebagai sarana guna mencerdaskan warganya, konon film Kapten Tsubatsa di buat guna memberikan support terhadap atlet sepak bola jepang yang ketika itu tampil di piala dunia, berbanding jauh dengan kita yang cenderung menjadikan media sebagai alat pembodohan masyarakat, film-film yag berbau pornografi, kekerasan,mistik masih menjadi menu utama media kita saat ini, terlebih media TV.

PENULIS ADALAH ARY FACHRY ALKILARI, SALAH SATU PENGURUS LDK UPIM UNTAD (KOORD.DEPARTEMEN KADERISASI)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

seNd yOur criTiCs N adViCes pLiZzz...!

Your Name :
Your Email :
Subject :
Message :
Image (case-sensitive):