BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM...

Sabtu, September 12, 2009

Bersafari Ramadhan di Palolo

PALOLO – Mahasiswa Untad yang tergabung dalam kepengurusan Kembaga Dakwah Kampus Unit Pengkajian Islam Mahasiswa (LDK UPIM), beserta rombongan Mahasiswa Pencinta Musholla (MPM) di Untad mencoba selalu optimal dalam mengemban visi-misi mereka, yaitu menghidupkan semangat dakwah di masyarakat. Tidak hanya itu, mereka juga siap memanfaatkan kesempatan dan fasilitas yang diamanahkan oleh pihak Untad, khususnya di bawah koordinator Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Untad. Rombongan civitas akademika Untad tersebut berhasil mengadakan Safari Ramadhan ke beberapa desa di Palolo, pada Selasa (8/9) lalu.
Rombongan Safari Ramadhan ini, telah melakukan Safari Ramadhan (Perjalanan Ramadhan, red) ke empat desa yang berbeda di Palolo yaitu, Desa Petimbe, Desa Makmur, Desa Ranteleda, dan Desa Berdikari yang dilakukan selama tiga hari dari 8-10 september kemarin. Selama beberapa hari, mereka menginap di ruangan yang ada di Sekolah Al Khairat Makmur Jaya Palolo, dengan disambut hangat oleh Kepala Sekolah tersebut secara langsung.
Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari, dengan melakukan ceramah agama di empat desa tersebut. Ceramah agama diawali oleh rombongan mahasiswa yang mendapat jadwal di malam pertama, serta rombongan dosen yang dipimpin langsung oleh Rektor Untad di malam kedua. Sedangkan pada siang hari di hari kedua, juga diadakan pelatihan remaja di Palolo oleh LDK UPIM. Kegiatan ini tentu saja dapat mempererat tali silaturahmi antara pihak Untad dengan masyarakat di Palolo, yang kebetulam Untad memiliki kebun percobaan di daerah tersebut.
Rektor Untad, Drs Sahabuddin Mustafa, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada seluruh masyarakat Palolo yang sudah dengan senang hati menerima kedatangan Tim Safari Ramadhan Untad. Sahabuddin juga mengatakan ada rasa kesyukuran yang luar biasa bagi civitas Untad, sehingga dapat bersilaturahmi dengan masyarakat Palolo.
“Kedatangan kami tidak membawa bantuan apa-apa untuk masyarakat Palolo, tapi malam ini kami membawa rombongan penceramah. Sehingga, insya Allah berguna menambah pengetahuan agama, serta dapat mencerahkan spiritual masyarakat,” ungkapnya.
Begitu low profile-nya Sahabuddin, hingga ia berucap demikian. Padahal rombongan Untad membawa atau menyiapkan beberapa bahan sembako, yang oleh inisiatif LDK UPIM disedekahkan kepada masyarakat Palolo, melalui masjid-masjid di beberapa desanya. Sedekah yang mereka berikan berupa beras, beberapa gula pasir dan blek susu.
Ketua LDK UPIM, Rusli, sangat bersyukur karena suksesnya kegiatan ini.
“Selaku panitia pelaksana, kami sangat berterima kasih diberikan kesempatan untuk ikut terlibat memfasilitasi kegiatan ini. Semoga, ini bukanlah silaturahmi yang pertama dan terakhir bersama masyarakat Palolo. Saya berharap, ke depannya akan banyak kegiatan keagamaan yang dapat dilaksanakan atas kerjasama dengan masyarakat setempat” pungkasnya. (Dept. Humas & Litbang)

Rabu, Agustus 12, 2009

Keamanan Poso Mensukseskan TLDK se Sulawesi A 2009

POSO- Perwakilan kader-kader aktivis dakwah dari berbagai universitas yang termasuk dalam wilayah Sulawesi A yakni Sulut, Sulteng dan Gorontalo, berhasil dipertemukan dalam Temu Lembaga Dakwah Kampus (TLDK) 2009 oleh kerjasama antara Pusat Komunikasi Daerah (Puskomda) Sulawesi A dengan Lembaga Dakwah Kampus Forum Kajian Mahasiswa Muslim Universitas Sintuwu Maroso (LDKFKM2 UNSIMAR) Poso, di Gedung Mess PGRI Poso (31/7).

TLDK tersebut berlangsung selama tiga hari-dua malam, dengan agenda padat dan cukup efektif yang telah dirancang oleh panitia. Seluruh peserta ikhwan (laki-laki) difasilitasi empat penginapan di Losmen Alugoro dan peserta akhwat-nya (perempuan) menginap langsung di penginapan puteri Gd. Mess PGRI Poso.

Pada hari pertama, acara dihadiri oleh Kepala Rektor UNSIMAR Poso, Lefrand Mango SE MSi dan Wakil Bupati Poso, Abdul Muthalib Rimi SH MH yang memberikan sambutan begitu hangat. Seorang perwakilan dari Puskomda Taslim HR Sulu bersama kedua petinggi tersebut, menjadi pembicara dalam Talk Show bertemakan “Jalin Kerjasama Eratkan Ukhuwah Menuju LDK yang Madani”. Meskipun temanya begitu meluas, diskusi tersebut lebih menitikberatkan pada masalah-masalah pembangunan LDK UNSIMAR Poso, serta melahirkan hasil-hasil pemecahannya, menurut pandangan ketiga pembicara tersebut.
Dalam sambutannya, Lefrand sangat mendukung kegiatan-kegiatan yang diajukan oleh LDK di kampusnya tersebut.
“Tidak hanya anggaran LDK, lembaga-lembaga lainnya pun telah terorganisir dalam anggaran kemahasiswaan di UNSIMAR poso. Saya begitu men-support semua kegiatan kemahasiswaan, yang penting dilaksanakan dengan penuh ketertiban. Sebab keukhuwahan (kerukunan, red) bukan suatu teori belaka, namun suatu hal yang harus dipraktikan. Saya memiliki keluarga besar. Meskipun saya beragama Kristen, namun sudah terbiasa hidup rukun bersama dengan keluarga lainnya yang beragama Islam,” ungkapnya.

Menurutnya pula, perbedaan agama, suku, budaya, psikologi dan perbedaan-perbedaan lain yang dimiliki setiap manusia, telah ditakdirkan oleh Tuhan YME. Keukhuwahan tidak akan ada, tanpa adanya perbedaan-perbedaan tersebut. Namun bila ada perbedaan, perlu dibangunnya ukhuwah atau persaudaraan untuk mencapai kesamaan visi-misi bersama ke depan, di dalam membentuk LDK yang madani.

Rektor yang penuh wibawa tersebut juga mengakui bahwa, TLDK kali ini sebagai wadah promosi di hadapan para mahasiswa. Ia menjamin bahwa Poso sekarang dalam keadaan aman dan tenteram. Salah besar, bila masyarakat Indonesia masih menganggap bahwa Poso masih dalam keadaan meresahkan.

Lain halnya dengan sambutan yang diutarakan oleh Muthalib, beliau sangat berharap agar setiap peserta dapat mengikuti kegiatan dengan penuh sunguh-sungguh, keakraban dan penuh kekeluargaan.
“Manfaatkan lah TLDK kali ini sebagai wadah pengembang dakwah dan silaturahmi di antara mahasiswa. Selaku mahasiswa harus memiliki semangat untuk melanjutkan tongkat estafet pembangunan bangsa. Di antaranya menjalin kerukunan, menunjukkan komunikasi-komunikasi intelektual dan menggali pengetahuan yang mendalam,” tegasnya.
Di hari yang sama pula, tiga orang ustadz menyampaikan pencerahan Islam kepada para kader LDK. Ahmad Suhardi SPdI mengungkapkan Urgensi Dakwah Kampus itu sendiri, sedangkan Jalan Cinta Para Pejuang dibawakan oleh sepasang kekasih (suami-istri, red) Moh Wahyudi ST dan Dwi Arie Juliany SSos.

Ahmad begitu hebat dengan retorika gaya dan bahasanya dalam menyampaikan polemik yang dialami umat Islam pada saat ini. Sehingga, tidak membuat para peserta menjadi bosan untuk mendengarkan setiap untaian kata-katanya.
“Dakwah memotivasi diri kita untuk berbicara dengan benar. Meskipun kita belum mampu mengamalkannya dan hanya mampu menyerukannya kepada orang lain, asalkan pada akhirnya memotivasi diri kita untuk dapat mengamalkannya pula. Sehingga perkataan akan sejalan dengan perbuatan kita,” tuturnya.

Dilanjutkan dengan keromantisan dari sepasang pembicara, dari keduanya dapat mencerminkan bahwa, betapa indahnya cinta bagi para pejuangnya. Kedua pembicara tersebut memaparkan hasil bedah buku berjudul “Jalan Cinta Para Pejuang” dan sejuta pengorbanan cinta mereka. Meskipun begitu banyak puisi-puisi cinta yang romantis, cinta yang penuh kelembutan, serta indahnya rasa penyakit “merah-jambu” ini, menurut Wahyudi dan Juliany, kita jangan sampai terlena dan diperbudak oleh nafsu cinta.

Di hari kedua, agenda ta’aruf atau perkenalan dilakukan antara para panitia dan para kader aktivis dakwah, secara satu per satu. Sehingga dapat saling mengenal di antara para kader LDK yang berjumlah 70 lebih tersebut. Hanya ada 11 LDK yang dapat hadir, dari 14 LDK yang tercatat pada arsip Puskomda, yaitu perwakilan dari Universitas Politeknik Manado, Universitas Tadulako (UNTAD) Palu, Universitas Muhammadiyah (UNISMUH) Luwuk, UNSIMAR Poso sebagai tuan rumah, Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Universitas Gorontalo (UG), dan universitas swasta yang tergabung dalam wilayah Sulawesi A.

Sedangkan dari Palu, LDK Unit Pengkajian Islam Mahasiswa (UPIM) UNTAD menjadi koordinator dari beberapa LDK yang ada pada setiap fakultas yang ada di UNTAD sendiri, serta LDK dari beberapa universitas lain, seperti LDK Jundullah dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Palu dan LDK as-Syifa dari Sekolah Tinggi Farmasi (STIFA) Palu.
Wadah terbaik yang dapat menyatukan aspirasi LDK, tidak lepas dari peranan Puskomda Sulawesi A. Puskomda (Pusat Komunikasi Daerah) merupakan pusat komunikasi antara lembaga kampus yang dibawahinya (di bawah terotorialnya), yang merupakan perpanjangan tangan dari (Pusat Komunikasi Nasional) Puskomnas dan Badan Pusat Komunikasi Nasional (BP Puskomnas).

“Ruang lingkup Puskomda yakni mendampingi LDK yang ada di wilayah teritorialnya, pertama untuk menyampaikan informasi-informasi yang didapat dari puskomnas, untuk mensinergikan dan menyatukan visi-misi, langkah-langkah LDK dan cara kerja kita, agar sama dengan yang ada di pusat” jelas Fathurrachman A Usman, yang merupakan Koordinator Bidang Kajian ke-LDK-an di Puskomda.

Puskomda juga hanya merupakan sebatas pusat komunikasi daerah saja, bukan penyedia material dan dana bagi LDK di bawah naungannya. Tiga poin penting fungsi Puskomda yaitu sebagai pusat media komunikasi, mendampingi dan melaporkan kondisi tiap-tiap LDK.
Penutupan acara dan kegiatan rihlah (rekreasi, red) menjadi agenda terakhir yang difasilitasi oleh panitia pelaksana di hari terakhir. Meskipun cukup jauhnya letak Air Terjun Kilo dari pusat Kota Poso dengan menggunakan angkutan umum, namun keindahan dan ketakjuban air terjunnya mampu melenyapkan kelelahan yang dirasakan oleh setiap peserta LDK. Kebersamaan dan kesedihan untuk saling berpisah di antara peserta pun makin terasa.

Menurut Ketua Panitia, Tuti Utami yang tercatat sebagai mahasiswi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di UNSIMAR Poso, tujuan diadakannya TLDK ini, selain menjalin kerjasama dan menguatkan ukhuwah di antara LDK, diharapkan mampu memunculkan solusi-solusi dari setiap masalah yang ada di LDK masing-masing dalam agenda Brain Storming dan simposium. Sehingga, setiap LDK akan membawa rekomendasi hasil simposium tersebut untuk di-follow up di daerah masing-masing.
“Pihak Rektorat UNSIMAR Poso merupakan pihak yang memberikan sumbangsih terbesar untuk terciptanya kegiatan TLDK tahun ini, serta adanya bantuan dari Puskomda dan instansi-instansi lainnya yang begitu berarti” tutupnya. (Yuli)

Gontor Poso, Gontor ke-12 di Indonesia


Kali ini, jauh-jauh Tim Supel mendapatkan informasi ter-update di Poso Pesisir loch! Ada sebuah tempat berguru Ilmu Islam yang bernama Pondok Modern Ittihadul Ummah Gontor Poso di daerah ini. Dari mahasiswa Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang tergabung dalam Sulawesi A (Sulut, Gorontalo, dan Palu), disambut penuh hangat di pondok luas dan teduh tersebut, meskipun cuaca kala itu cukup panas, pada Minggu (2/8) lalu.

Karena Tim Supel berada di kumpulan LDK akhwat (perempuan, red), maka Tim Supel hanya meliput keberadaan santriwati atau siswi di Gontor saja. LDK ini hendak bersilaturahmi ke pondok ini, setelah acara penutupan Temu Lembaga Dakwah Kampus (TLDK) se-Sulawesi A pada hari tersebut.

Sesuatu yang hebat dari pondok ini, menurut Abdullah Sukri selaku pendirinya, pondok ini mencetak alumni atau lulusan menjadi manusia besar di mata Gontor. Bukan sukses menjadi seorang petinggi atau pejabat, akan tetapi besar yang dimaksudkan ini adalah menjadi lulusan yang mau mengajarkan dari ilmu yang telah diperolehnya, di musholla-musholla yang kecil, dengan segala keikhlasan, dengan perjuangan yang tinggi dan masyarakat mengakui segala kehebatan tindakannya tersebut.

Para tenaga pendidik di pondok yang baru berdiri setahun lebih ini, yaitu pada tanggal 18 Juli 2008 lalu, adalah tenaga pendidik yang juga telah lulus dari pondok pesantren Gontor yang mungkin dari beberapa cabangnya yang ada di Indonesia. Rata-rata, pendidik di pondok ini adalah lulusan S1 Fakultas Ekonomi suatu perguruan tinggi, dan sebagian kecil lulusan S1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, dengan umur yang masih begitu muda.

Menurut ustadzah Fadilah, para santri dan santriwati wajib mengikuti segala tuntutan peran pembelajaran sebagai proses menuju kualitas yang diharapkan.
“Di Gontor tidak diklasifikasikan kelas jurusan seperti di sekolah-sekolah negeri pada umumnya, di sini kami mempelajari seluruh pelajaran secara umum. Karena waktu belajar hamper 24 jam non-stop, dapat dikatakan kami mempelajari 100% Agama Islam dan 100% Ilmu pengetahuan lainnya,” tutur Fadhilah yang baru-baru saja menyelesaikan studinya di sebuah perguruan tinggi selama 4 tahun tersebut.

Tahu tidak teman-teman, dalam keseharian para santriwati wajib berbahasa Arab dengan para ustadzah atau Ibu Guru. Setiap paginya sekitar setelah melaksanakan solat Subuh, mereka harus menghafal kosakata bahasa Arab yang sering disebut ‘mufrodat’ sebelum mandi dan kemudian masuk mengikuti mata pelajaran.

Barangsiapa santriwati yang melanggar tata bahasa Arab dalam kesehariannya, akan dihukum dengan tindakan yang dapat membuat santriwati itu merasa malu dan jera. Misalnya, ustadzah menyuruhnya menggunakan jilbab yang warnanya mencolok atau terang, sebagai tanda bahwa santriwatinya itu melakukan pelanggaran. Tentu aja yang dihukum akan merasakan malu banget! Sebab, rasa malu adalah salah satu rasa yang menandakan masih adanya keimanan seorang hambanya yang beragama Islam loch….

Ini nih hasil wawancara Tim Supel dengan empat santriwati di Pondok yang luas dan rindang ini:
“Saya sekolah di pondok ini sejak saya seumuran dengan siswa sekolah SMP. Bahasa Arab adalah mata pelajaran yang saya paling sukai, setiap subuh saya mencoba mempelajarinya kembali. Namun, saya lebih banyak memusatkan pikiran untuk memperhatikan baik-baik ustadzah yang sedang mengajar di kelas. Sebab kata ustadzah, cara paling baik untuk belajar adalah di dalam kelas,” ungkap Istiani.

Pelajaran kesukaan Istiani sama dengan yang dirasakan oleh Maya, Ia berfikir bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan atau yang ada dalam Kitab Suci al-Qur’an, sehingga Ia ingin menguasai bahasa tersebut.

Lain halnya dengan Ira, Ia lebih menyukai pelajaran Mutola’ah. Pelajaran ini serupa dengan bahasa Indonesia, yaitu mempelajari cerita-cerita seru dalam bahasa Arab.
“Orang tua saya, sangat berharap dengan masuk di pondok ini, saya mampu memperbaiki diri, bisa berbahasa Arab dan menjadikan akhlakul karimah dalam diri saya,” cetus si Ira.
Satu lagi nich, sobat kita yang satu ini suka pelajaran Nahu. Ia bernama Hijriah, yang kalau diartikan dalam bahasa Arab adalah berpindah. Mudah-mudahan aja dapat pindah atau menuju ke arah pribadi yang lebih baik, amin. Nahu merupakan mata pelajaran yang membahas persoalan tata bahasa (teori) bahasa Arab itu sendiri.

Santriwati harus bisa mengikuti seluruh jadwal yang telah ada di pondok, yaitu misalnya bangun tepat pukul 04.00 pagi, solat subuh, menghafal mufrodat, masuk kelas pukul 08.00 dan keluar kelas pukul 12.00. Pada sore hari setelah pelaksanaan solat Ashar dan Isya juga ada jadwal belajar di kelas.

Menurut Abdullah, tidak ada waktu istirahat di pondok ini, atau dengan kata lain 24 jam non-stop. Seluruh sukarelawan atau pendidiknya memiliki prinsip kokoh dari sebelum-sebelumnya, untuk berjuang dengan penuh keikhlasan dan mencari pekerjaan sebanyak-banyaknya.
Di tahun 2000, Gontor baru bisa diakui oleh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) atas kebijakan presiden pada saat itu. Meskipun begitu, sudah jauh-jauh hari setelah berdirinya Gontor di Indonesia, masyarakat di luar negeri telah mengakui keberadaannya, misalnya masyarakat di Mlaysia, Mesir, Singapura, Italia, dan Saudi Arabia. Pondok Instiqomah di Ngatabaru, Palu merupakan pondok alumni dari Gontor.
Sudah ada 3000 pondok pesantren alumni didikan Gontor, dengan menamatkan 20.000 lebih santri-santriwatinya.

Menurut fadhilah, Gontor Poso ini masih di bawah yayasan dan dikelola langsung oleh pihak tenaga pengajar di pondok tersebut. Ada 11 tenaga pengajar di pondok ini, dengan mengajar 200 lebih santri dan 118 santriwati. “Insya Allah sebentar lagi Gontor Poso ini akan diresmikan menjadi Gontor ke-12 di Indonesia,” pungkasnya. (Yuli)

Kamis, Juni 18, 2009

PEMUDA MUSLIM WAJAHMU KINI.....?

Degradasi moral yang menimpa pemuda muslim bukanlah hal baru untuk dibicarakan pada abad ini, semua pun tahu kalau saat ini generasi muda umat ini tengah mengalami masa-masa sulit, berbagai menu kebobrokan kini tersedia dengan berbagai macam pilihan, mulai dengan pergaulan bebasnya, style dan mode pakaiannya, sampai dengan free seksnya, ternyata berhasil membuat tidak sedikit pemuda muslim yang kehilangan arah serta jati dirinya sebagai seorang muslim, lebih parah lagi tidak sedikit dari mereka yang merasa risi untuk menunjukkan jati diri mereka sebagai seorang muslim, singkat kata “they shy to show that they are a Moslem”.

Arus informasi yang begitu cepat, pertukaran budaya yang sudah tidak mengenal ruang dan waktu, ternyata berdampak besar terhadap pola pikir dan tingkah laku para pemuda-pemudi Islam, yang akhirnya menganggap bahwa apa yang berasal dari barat itulah yang terbaik dan patut untuk di contohi, maka berkembanglah paham sekularisme, hedonisme, kapitalisme, serta isme-isme lainnya yang notabenenya neh…sangat, sangat jauh and bertolak belakang dengan prinsip Islam yang yakin bahwa kebenaran hanyalah bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah sebagai rujukan. Kalau diibaratkan sebuah penyakit maka apa yang dihadapi oleh mayoritas pemuda kita saat ini sudah masuk kategori kronis……wah ….separah itukah ??? ya …. Seperti itulah kondisi generasi kita, mari kita lihat bersama fakta yang terjadi saat ini. Mulai dari budaya pacaran, pemuda kita sudah berhasil dikalahkan, maju selangkah melihat trend and mode fashion, lagi-lagi generasi kita tak mampu bertahan, semua itu bisa dilihat dari minimnya minat mereka terhadap apa-apa yang berbau Islam. Orang yang taat beribadah, rajin pergi kemesjid, sering diidentikkan dengan orang yang kolot, ketinggalan zaman, atau mungkin tidak mengikuti perkembangan zaman, benarkah begitu…?

Meminjam syair nada izzatul Islam yang katanya “Untuk itu sebuah seruan harus segera dilantunkan untuk kembalikan harga diri umat dan agama ini yang telah lama tercabik dihinakan”. Maka peran generasi muslim sangatlah ditungguh untuk bisa menunjukkan kepada dunia bahwa generasi-generasi pejuang umat ini masih ada dan akan tetap terus berjuang mangusung panji Islam hingga titik darah terakhir. Tanpa pernah peduli seberat apa beban yang akan di hadapi, yang pasti seluruh gerak dan langkah akan di korbankan untuk kejayaan islam dan kaum muslimin guna mencapai cita-cita mulia Isy kariiman au mut syahida, hidup mulia atau mati syahid”

KARYA : koord. Kaderisasi

PERJUANGAN TIDAK BOLEH BERHENTI !!!

Oleh : Ary Fachry

Hidup tidak se indah yang kita impikan akan tetapi juga tidak seburuk yang kita takutkan, susah dan senang adalah romantika kehidupan yang menjadikan hidup ini semakin berwarna.

Kita sadar bahwa hidup adalah sebuah perjalanan panjang untuk mengukir sebuah cerita dalam sejarah perjalanan anak manusia, begitu banyak aral yang melintang, tidak sedikit jalan yang berliku, bukit yang terjal pun telah siap menanti untuk didaki, semua itu butuh pengorbanan, perjuangan serta kesabaran dalam menghadapinya, sebab siapa yang tidak siap maka ia akan terhempas oleh derasnya arus kehidupan ini.

Hari ini kita hidup di era yang penuh dengan godaan, kita hanya bisa mengelus dada serta berharap cemas ketika melihat zaman sudah tidak menjadikan Al-Qur’an dan sunnah sebagai rujukan. Akhirnya kadar kesopanan, hanya diukur dengan akal, sehingga bisa di kata hari ini kita hidup di zaman yang sudah tidak bermoral, dimana orang-orang sudah tidak malu lagi untuk mempertontonkan tubuhnya, sayang negara yang katanya mayoritas masyarakatnya muslim ini tidak sanggup untuk berbuat banyak. Hasilnya yang mengenakan busana-busana minim dijadikan trend, diskotik dijadikan bak sebuah tempat ibadah, artis-artis menjadi pujaan orang masa kini, sedang yang mengamalkan sunnah, yang berbicara tentang Al-Qur’an, yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kepada yang mungkar di identikan dengan orang yang ketinggalan zaman bahkan yang paling ironis tidak sedikit yang men cap radikal. Akhirnya Amerika bertepuk tangan…. Orang-orang kafir tertawa… sedang kita…..? tanpa sadar tidak merasa bahwa pemikiran mereka telah berhasil meracuni kita yang akan terus menjangkiti anak-anak kita.

Tapi kita juga tahu bahwa hidup yang akan kita alami saat ini tidaklah mudah, dan tidak akan berhenti sampai di sini, dan mungkin untuk itulah kita hidup pada zaman ini, yaitu berjuang bersama demi tegaknya diennul Islam yang kita cintai ini.
Hari ini bukan saatnya lagi untuk silang pendapat, bukan waktunya lagi untuk saling menyalahkan, sudah tidak ada waktu lagi untuk berdebat, yang pasti semua persoalan kita, kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan sunnah.

Menyelematkan generasi kita, dari paham sesat orang-orang kafir adalah tugas utama kita saat ini, tidak peduli siapapun anda, apapun status anda, bagaimanapun bendera anda, yang pasti saat ini kita mesti bersama merapatkan barisan, menguatkan ukhuwah, menyatukan langkah untuk sama-sama berjuang dalam satu bendera yaitu Al-Islam, dan dengan satu tujuan yaitu tegaknya Kalimatullah di muka bumi ini.
Akhirnya hanya kepada Allah kita kembalikan urusan kita karena kita percaya, kalau orang-orang kafir tersebut begitu pandai membuat tipu daya maka ketahuilah sesungguhnya Allah akan membalas tipu daya mereka.

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Q.S Al-Anfal :30).

Siapa Berani Tinggalkan Rokok ???

Merokok adalah sebuah perilaku yang sudah menjadi rutinitas oleh hampir separuh lebih dari penduduk negeri ini, setiap para pecandunya memiliki motivasi yang berbeda kenapa mereka memilih untuk merokok, ada yang supaya dibilang macho dengan merokok, ingin diterima dalam pergaulan, ada yang katanya sudah kecanduan sehingga sulit untuk melepaskannya, bahkan ada yang beralasan sekedar iseng pengisi waktu dikala senggang.

Setiap iklan melalui media cetak maupun elektronik seakan menggambarkan bahwa merokok adalah aktifitas yang rugi untuk ditinggalkan, semboyan berbagai produk rokok seperti, Bikin hidup lebih hidup, pria punya selera, ternyata berhasil menenggelamkan citra buruk dari produk rokok itu sendiri, terbukti peringatan yang tertera dalam setiap kemasan rokok “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, gangguan impotensi dan janin” ternyata tidak berarti apa-apa bagi para konsumen rokok, dan rasanya para smoker mania pun tahu akan hal itu, mereka juga menyadari bahwa resiko penyakit akibat merokok bukanlah penyakit yang main-main, yang menjadi pertanyaan kini, kalau toh para perokok telah menyadari hal itu mengapa mereka masih tetap Istiqamah mempertahan kebiasaan yang kita harus sepakat tidak pantas untuk dikatakan baik.

Merokok merugikan diri sendiri, dan orang lain.

Selain berbahaya bagi diri sendiri dengan resiko penyakit bahkan kematian, merokok pun ternyata merugikan orang lain, dari berbagai situs di internet yang memuat tentang rokok mengatakan : “bahwa perokok pasif lebih berbahaya dari perokok aktif”, artinya orang yang tidak merokok yang setiap harinya berada dilingkungan perokok lebih rentan untuk terkena dampak dari merokok ketimbang para perokok itu sendiri, sebab orang yang tidak merokok tersebut, setiap harinya menghirup asap rokok yang berasal dari mulut para perokok hii…menjijikkan bukan ??? . Ada kasus yang pernah terjadi untuk menggambarkan penjelasan diatas. Di sebuah angkutan umum, seorang lelaki dengan ekspresi tanpa dosa merokok didalam kendaraan tersebut, seorang ibu yang sedang asyik menikmati gula-gula karet meminta dengan ramah pada pemuda tadi untuk mematikan rokoknya karena mengganggu penumpang, tapi dengan meyakinkan pemuda tadi tidak mengabulkan permintaan sang ibu, seketika kemudian ibu tadi mengeluarkan gula-gula karetnya, lalu kemudian dengan nada yang datar ibu tadi berkata “Anda mau menikmati gula-gula karet saya”? tanya sang ibu. Dengan wajah keheranan dan logat kaili yang kental pemuda tadi menjawab “siapa juga yang mau makan gula-gula karet dari mulut mu”? kemudian ibu tadi menjelaskan dengan perkataan yang sopan “nah kalau anda tidak mau makan gula-gula karet yang dari mulutku, saya pun juga demikian tidak ingin menghirup udara rokok dari mulut anda”.

Tulisan ini dibuat bukan untuk menghakimi para pecinta rokok tanah air, namun sebagai bagian untuk menjalankan pesan Al-Qur’an Watawa sau bil Haq, saling menasehati dalam kebenaran. Akhirnya ana mengajak untuk sama-sama berani secara gentleman berusaha meninggalkan rokok. So…Siapa berani tinggalkan rokok ??? Wallahualambissawab.

Written By : Fahri Al-kilary

INILAH PERJUANGAN

oleh : Ary fachry

Hidup terus bergulir, putaran waktu seakan tidak mau kompromi untuk tetap berputar…. Begitupun perjuangan ini tidak boleh berhenti dengan bergantinya waktu dan tempat. Lalu... perjuangan seperti apa yang akan kita bicarakan? Membela negarakah ? Mempertahankan hidupkah ? tidak !!! sebagai seorang muslim perjuangan kita jauh dari hanya sekedar membela negara, apalagi hanya untuk mempertahankan kehidupan.

Perjuangan ini adalah perjuangan yang telah ditempuh oleh para Rasul, dan orang-orang yang tetap yakin akan pertolongan Allah di hari kemudian nanti. Ya... perjuangan ini adalah perjuangan li’ilai kalimatillah, yang pastinya akan menuntut pengorbanan sebagai bukti loyalitas kita terhadap agama ini, sebuah pengorbanan yang akan menjadikan harta, waktu, tenaga, bahkan nyawa sekalipun menjadi taruhannya. Tantangan dan hambatan adalah hal yang mutlak dalam perjuangan, maka kata menyerah tidak akan pernah ada dalam kamus orang-orang yang ingin merintis perjuangan ini, apalagi berputus asa setelah rentetan masalah yang datang.

Roda waktu terus berputar tantangan ke depan justru semakin sulit, yang memaksa kita mulai hari untuk bersama memikirkan jalan keluar serta solusi yang terbaik guna mengeluarkan umat ini dari keterpurukan yang telah sekian lama kita alami. Keterpurukan yang membuat kita dianggap remeh oleh musuh-musuh kita, keterpurukan yang membuat kita mengemis memohon pertolongan dan perlindungan di hadapan musuh-musuh Islam, terlebih lagi keterpurukan ini membuat kita kehilangan harga diri.

Maka sudah saatnya kita harus bersama dan bergandengan tangan dalam perjuangan ini, apapun bendera yang anda bawa, dari manapun latar belakang anda, selama anda masih mengaku muslim maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersama dalam perjuangan ini, segala perbedaan pendapat yang ada, baiknya kita kembali untuk merujuk kepada Al-Qur’an dan sunnah,

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
(Q.S.An-Nisa: 59)
Allahu Akbar !!!

KABAR DARI LUAR

Salam kangen dari jauh, pa kabar mujahid Istiqamah, roda kehidupan terus berputar yang tidak terasa telah mengantarkan aku pada keadaan yang aku alami saat ini. Untukmu teman-temanku, adik-adikku, saudara ku, kutulis risalah ini sebagai berita akan kehidupan luar yang penuh dengan perjuangan dan tantangan yang jauh lebih berat dari kehidupan pondok yang kita alami bersama dulu.

Saudaraku…. Kehidupan luar benar-benar penuh dengan tantangan dan rintangan yang kadang harus mencucurkan air mata, demi sebuah perjuangan “fi ai ardin tato’ anta masuluun an islamiha”.
Tamat dari pondok bukan berarti tamat mempelajari agama, tapi justru memaksa kita untuk lebih mendalami agama, sebab jika tidak salah-salah kita akan menjadi korban kehidupan luar yang serba bebas, yang tidak mengenal displin lagi, tapi disitulah akan di lihat siapa yang mencari ilmu di pondok dan siapa yang mencari kelas.

Saudaraku…. Jadikanlah masa belajarmu di pondok sebagai sarana untuk membekali diri guna menghadapi episode selanjutnya, perkayalah dirimu dengan berbagai macam wawasan dan pengalaman yang akan menjadi bekalmu kelak, sebab sebagai seorang muslim tujuan hidup kita hanyalah satu yaitu untuk menyembah Allah, (inna khlaqtul jinna wal insa illa liya’budun).

Saudaraku…. Pabila kalian mengalami kehidupan luar (khususnya untukmu teman-temanku kelas 6 yang tidak lama lagi akan mengakhiri masa belajarnya di pondok). Pesanku sebagai saudara sesama muslim, janganlah kalian menjadi pemburu materi, tapi jadilah pemburu ridha Ilahi, sebab bila harta yang menjadi tujuan kalian mungkin kalian akan mendapatkannya, tapi tidak ridha Allah. tetapi sebaliknya jika ridha Allah yang menjadi tujuan kalian insya Allah kalian akan mendapatkannya, jika Allah telah ridha terhadap kalian, sebab Dialah yang maha kaya insya Allah hartapun akan kalian dapatkan. Ingat harta atau materi hanyalah faktor pendukung guna kelangsungan hidup bukan tujuan.

Saudaraku….. untukmu yang saat ini menggenggam amanat sebagai pengurus OPPM jadikanlah amanat tersebut sebagai sarana guna menggapai jannah, sebab jika kalian ikhlas, ridha, yakinlah Allah tidak pernah lalai dari melihat hamba-Nya, dan insya Allah semua itu akan di catat oleh malaikat sebagai amal kebaikan yang akan kalian dapatkan balasannya di hari kemudian, dan ingat janganlah amanat tersebut yang menjadi penyebab azab Allah terhadap kalian. (man ya’mal mitsqola zarratin Khaira yara’ wa man ya’mal mitsqala zarratin syarra yara’). Untuk mu adik-adikku shalatlah bukan karena takut kepada ustadz atau kepada pengurus tapi karena Allah, sebab Ustadz ataupun pengurus mungkin akan lalai dari memperhatinkan kamu tapi tidak demikian dengan Allah, ingat !!! Allah mengawasimu 24 jam.

Selamat berjuang kawan, selamat berjuang teman, li I’lai kalimatillah. Allahu Akbar.!!! Minni akhukum fillah. Ari Fahri.


Ary Fachry adalah pengurus UPIM alumni Ponpes Istiqomah Ngatabaru Palu

APA KABAR GENERASI ISLAM

Jiwa muda adalah jiwa yang penuh semangat, enerjik , produktif, dan berkemauan keras. Maka tidak salah kalau di katakan pemuda adalah harapan umat, generasi umat, yang akan melanjutkan kelangsungan perjuangan yang telah dirintis oleh orang-orang sebelum mereka, di tangan pemudalah cita-cita umat ini akan di embankan.

lalu sebagai pelanjut estafet perjuangan para pendahulu kita, apa yang telah kita persiapkan, untuk melanjutakan perjuangan mereka, yang telah mereka rintis dengan linangan darah dan air mata ini.

Maka sobat-sobat muda mari kita isi masa yang penuh dengan semangat ini dengan sesuatu yang bernilai positif, yang akan menjadi bekal kita dalam mengarungi kehidupan yang lebih berat di masa-masa yang akan datang, terutama menghadapi era globalisasi. So what happen with globalisasi ?. nah teman-teman mesti tahu neh, era globalisasi telah memakan banyak korban lho…terutama remaja-remaja muslim kita yang telah menjadi korban mode ,akibatnya tidak sedikit dari remaja Islam yang kehilangan jati diri akibat globalisasi ini, akhirnya hanya demi sebuah trend, mereka rela menjual aqidahnya. Berbagai alasanpun bermunculan untuk membenarkan tingkah mereka mulai dari ingin di bilang gaullah, ngga ketinggalan zamanlah, mengikuti modelah, yang semuanya berasal dari artis-artis idola mereka, sehingga apa yang di lakukan artis pujaan mereka itulah yang mereka tiru, dengan motto muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. ironis bukan? Yang lebih memprihatinkan lagi setiap yang bersentuhan dengan agama di anggap tabu oleh mereka, dan di anggap ketinggalan zaman. Urusan shalat? mungkin ngga kepikir lagi di benak mereka, mereka beranggapan bahwa tobat adalah urusan belakangan yang dapat di lakukan ketika sudah tua nanti. Wah ternyata mereka ngga tau rupanya kalau malaikat pencabut nyawa ngga tanya umur dulu sebelum melakukan tugasnya.

Oleh karenanya penting bagi kita untuk mengadakan pembekalan diri mulai saat ini, dengan berusaha untuk tahu lebih banyak tentang agama. Why?. Karena rugi dong kita yang udah di berikan kenikmatan terlahir dalam keadaan Islam kemudian ngga tahu tentang Islam itu sendiri. Kemudian yang ngga kalah pentingnya lagi neh, coba-temen-temen bayangin kalau temen-temen uda pada married, dan punya anak. Nah gimana ngedidiknya biar bisa menjadi anak shaleh, kalau kita ngga punya ilmu yang memadai? Padahal anak kan amanat Allah. Dan anak yang shaleh dapat menyelamatkan orang tuanya dari siksa api neraka. Pokoknya ngga bakalan rugi deh, menjadi pemuda yang taat sama agama.

Lalu caranya gimana untuk bisa tahu tentang agama sedangkan basic kita bukan dari sekolah agama? Tenang men, it’s no problem. Karena sekarang ini banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menuntut ilmu agama walau tidak harus melalui bangku-bangku formal, misalnya nih, temen-temen bisa mulai dengan membaca buku-buku islami, bertanya kepada orang yang di anggap tahu tentang agama, menghadiri majelis-majelis ilmu. Dan seabrek kegiatan-kegiatan lain yang pastinya dapat menambah wawasan kamu tentang masalah-masalah agama. Intinya kita harus berusaha mencari guna untuk memperkaya pengetahuan kita tentang masalah-masalah agama, karena seperti halnya duit, ilmu juga ngga bakalan datang dengan sendirinya kalau ngga ada usaha dari diri kita untuk mencarinya.
So guy’s menjadikan masa muda dengan mendekatkan diri kepada Allah bukanlah hal yang ketinggalan zaman kok, dan ngga perlu pusing dengan ejekan-ejekan orang.
Rasulullah SAW pernah kan bersabda, gunakan 5 perkara sebelum datang 5 perkara salah satunya “masa muda mu sebelum datang masa tua mu”. Hadits inilah yang mestinya menjadi amunisi bagi kita untuk membekali diri, berubuat untuk umat karena, mumpung masih muda, mumpung masih kuat, coz kalau udah tua tentu kita ngga akan bisa berbuat sebagaimana ketika masih kita muda. Akhirnya ana ucapin selamat mencoba untuk menjadi pemuda muslim yang taat sama agama, dan takut sama dosa. Good luck, to be a true Moslem.

PENULIS ADALAH ARY FACHRY ALKILARY, PENGURUS UPIM KOORDINATOR DEP.KADERISASI

Sabtu, Juni 13, 2009

KETIKA MALAIKAT KECILKU BERTANYA

Oleh : Armida Abd.Salam

Seringkali dalam keseharian ini, banyak sekali ibrah yang bisa kita jadikan I’tibar menuju fase perjalanan hidup kita. Entah itu kejadian yang disengaja ataupun tidak. Bahkan tingkah seorang anak kecilpun seringkali sarat dengan pelajaran buat kita orang dewasa.

Pernah suatu hari saya melaksanakan rutinitas sy setiap sore di TPA, yang tentunya mengajarkan sedikit ilmu yang kumiliki yaitu baca tulis Alqur’an yang dulu semasa kecil kupelajari dari papa dan mama. saya mendapatkan sebuah pengalaman yang menurut saya begitu berharga..

Ketika saya sedang asyik ngajar santri kelas Alqur’an, tiba-tiba 3 santri saya yang dikelas iqro menarik perhatian saya, bukan karena ribut atau kenakalan mereka seperti biasanya, tapi karena topik pembicaraan mereka yang bikin saya tertawa geli. Sekilas dari pembicaraan mereka yang saya dengar, sepertinya mereka bertiga bercerita tentang super hero mereka, tapi dengan kesan diantara mereka “nggk mau dikalah”, yah…namanya juga anak kecil.
“saya punya naruto yg jago”, yang satunya lagi dengan gaya bicara menantang “saya punya Allah”. Pernyataan santri saya yang kedua ini sempat membuat saya tersentak kaget, bagaimana tidak, dari pernyataannya itu berarti dia paham bahwa Allah adalah super hero yang Maha segala-galanya dan pantas untuk dijagokan. Jarang loh..anak seusianya yang dengan berani menjadikan Allah sebagai ’sang hero’. Tapi satu anak lagi yang membuat saya tersenyum geli, dengan gaya lugunya berkata “saya punya Allah tambah ultra man”.
Duerrrr…nggak kepikiran deh seorang anak kecil menyandingkan Allah dengan tokoh protagonist dalam film produksi Negeri shintoisme Jepang.

Tidak sampai disitu, santri saya yang kedua tadi tiba-tiba bertanya “ustadzah…mana yang lebih jago, Allah atau ultra man?” saat itu otak saya berputar, berusaha mencari jawaban yang kira-kira pas untuk menjawab keingintahuan mereka.
Jadi ingat seorang ummahat yang pernah bilang katanya, pertanyaan anak-anak kadang bikin perut mules. Saking besarnya keinginan mereka untuk memuaskan rasa penasaran dan keingintahuan mereka.

Saat itu sang Maha Hikmah memberi pelajaran padaku, tentang pentingnya mendampingi anak-anak ketika mereka menonton acara TV, karena banyak loh acara TV sekarang sama sekali gk ada nilai edukasinya, bahkan kebanyakan film impor dari negara-negara sekuler yang berkedok film anak2 seperti kartun, robot2 dan sejenisnya hanya bertujuan untuk mencuci otak generasi Islam. So..sebagai ibu n ”calon” ibu harus membentengi generasi kita dengan bekal ilmu-ilmu agama. Membekali anak-anak dengan keimanan, kedisiplinan, dan tanggungjawab jauh lebih berharga ketimbang membekali mereka dengan harta. Mendidik anak agar selalu berada dalam fitrahnya (Islam) tidaklah mudah, Ya, itu semua memang butuh pengorbanan. bahkan Imam Al-Ghazali dalam risalah ayyuhal walad mengumpamakan proses tarbiyah anak ibarat seorang petani yang mencabuti duri-duri dan membuang tumbuhan asing dari tanamannya agar tumbuh dengan baik dan sempurna. Pengorbanan itu semata agar generasi Islam tumbuh dewasa dengan pribadi yang matang, kuat, punya tanggung jawab, dan tentunya taat beragama.

Sekarang ini negara-negara sekuler menjajah kita ummat Islam dari semua lini kehidupan. Mulai dari gaya hidup, fashion, pendidikan, sampai kepada generasi-generasi kita pun tak luput dari bidikan. Nah, untuk hal inilah, Islam menghendaki agar wanita muslimah mengambil peran sebagai pendidik utama bagi generasinya. Karena wanita muslimah adalah pembangun sejati sebuah masyarakat kecil yang bernama keluarga. Keluarga merupakan sekolah kecil. Dalam sekolah ini, pendidik yang paling utama adalah sang ibu. Baik buruknya kepribadian seseorang, banyak bergantung pada didikan ibunya, karena ibulah yang menyemaikan ciri baik atau buruk pada putera-puterinya.

Alangkah indah hidup ini, jika jerih payah seorang ibu dalam menjalankan perannya sebagai madrasatul uula, menghasilkan pemuda-pemudi yang nantinya menjadi cahaya ummat, penerang orang-orang yang berada dalam kegelapan, menjadi penyejuk bagi hati-hati yang gersang, dan menjadi penuntun bagi orang-orang yang sesat.

Buat akhwat fillah, mulai dari sekarang bangun kesadaran untuk mempersiapkan diri agar dapat menjadi ibu yang baik, seorang ibu yang kelak menjadi peneduh jiwa bagi keluarga, yang dapat mengemban amanah Allah serta bertanggungjawab agar generasi menjadi abrar.

Laa-Raib...sebuah "statement" dalam perspektif wahyu

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِين
” Kitab (Al-Qur’an) ini, tidak ada keraguan padanya, petunjuk
bagi orang-orang yang bertakwa” (Al-Baqarah : 2)

Oleh: Aria Sunny

Allah menciptakan segala sesuatunya di seluruh alam semesta penuh dengan keseimbangan sebagai manifestasi ke Maha Adilan dan ke Maha Bijaksanaan serta keseluruhan Sifat-sifat wajib ketuhanan sekaligus, sehingga tak kan ada satu makhlukpun yang dapat menjangkau ke Maha Besaran Allah dalam lingkup ruang dan waktu, karena Allah sama sekali tidak terikat dengan keterbatasan ”makhluk waktu” nya.

Ada suatu hal yang menarik dari sifat-sifat Allah ini. Karena Dia adalah sang serba Maha, maka tak kan ada satupun yang mampu menandingi ke Maha-anNya. Salah satu sifat yang menarik dariNya adalah sifat keMaha Benaran.

Dalam kalangan scientist terdapat suatu kesimpulan bahwa apa yang telah dikatakan benar, sesungguhnya belumlah mutlak benar. Sesuatu hal adalah benar menurut anggapan relatif disuatu zaman karena pada periode berikutnya terdapat bukti yang memperbaiki kebenaran semula, hingga apa yang kemarin telah benar, kini harus dirubah lagi, dan besok mungkin disempurnakan lagi.

Tingkat keberhasilan dari pencaharian kebenaran ini harus selalu diukur dengan tahap persetujuan antara pernyataan dan kenyataan tentang sesuatu. Kebenaran ilmiah barulah mewakili ataupun memperlihatkan kesanggupan yang telah dicapai disuatu masa.
Karena kebenaran bersifat relatif dalam koridor ruang dan waktu, maka demi memenuhi sifat keseimbangan yang telah tercipta, maka harus ada satu pedoman mutlak yang harus dimiliki dalam lingkup ruang dan waktu, sehingga dengan kebenaran itu dapat menyeimbangkan kesalahan-kesalahan sebagai bukti keadilan. Kebenaran mutlak sebagai bukti keadilan harus ditunjukkan oleh pencipta kebenaran, sang pencipta kebenaran pun tidak perlu repot-repot menampakkan ”diri” nya sehingga kebenaran relatif karena dirinya sendiri ternoda oleh relativitas ruang dan waktu (atau dapat dikatakan dia melecehkan dirinya sendiri). Mungkin karena hal inilah tuhan-tuhan dari beberapa kitab lain sepertinya ”malu-malu” atau memang ”takut” mengakui kitabnya benar sehingga sifat-sifat keadilan dan kebenaran yang seharusnya dimiliki oleh sang Maha menjadi hilang. Oleh sebab itu maka wajah kebenaran yang dimiliki harus ditampakkan sehingga kebenaran abadi menjadi tidak terbatas oleh lingkup ruang dan waktu. Dan ternyata hanya kitab Al-Qur’an yang mampu menjabarkan seluruh kriteria kebenaran itu. Subhanallah...

Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas memiliki penafsiran secara rinci sebagai berikut :
1. Dzaalika berarti "ini". Hal demikian banyak terjadi dalam Bahasa Arab. Al Qur’an, bagai penjelas satu-satunya bagi bahasa Arab, tampil dengan uslub "ini". Dalam QS Al Baqarah : 68 Allah menegaskan lagi bahwa ”dzaalika” juga merupakan isyarat yang menunjukkan ini, dan ”ini” yang dimaksud adalah ”al-kitaab” : ” Inilah hukum Allah, Dia memutuskan perkara di antara kamu”.
2. Al-Kitaab, banyak kalangan orientalis sesat yang mengartikan bahwa pengertian Al-Kitaab adalah umum untuk seluruh kitab seperti Injil (Bible) dan Taurat. Ibnu Katsir menegaskan bahwa penafsiran ini sangat jauh dari kebenaran dari kalangan yang sama sekali tidak mengerti kaidah bahasa Arab. Al-Kitaab yang dimaksud di sini jelas adalah Al-Qur’an.
3. Laa raiba Fiihi (Tidak ada keraguan padanya). Yakni tiada kebimbangan di dalamnya. Ada pula ulama yang membaca Dzaalikal kitaabu laa raiba
4. Hudan lil Muttaqin (Petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa). yakni sebagai cahaya bagi orang-orang yang bertakwa, yakni bagi orang-orang mukmin yang memelihara dirinya dari menyekutukan Allah, mengesakanNya, beramal dengan menaati-Nya, takut terhadap azab-Nya, mengharapkan rahmat-Nya, dan menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan-Nya. Makna ini sejalan dengan makna ayat yang sesudahnya, yaitu ayat yang mengandung sifat-sifat orang yang beriman dan bertakwa yang disifati Allah dengan firman-Nya,"(yaitu) orang-orang yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan sholat, dan yang menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka".

Selain uraian yang telah dikemukakan Ibnu Katsir di atas, Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menafsirkan bahwa orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang mendapat manfaat dengan adanya ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat syar’iyah. Hidayah ada dua macam yaitu hidayah bayan dan hidayah taufiq. Dan orang-orang bertaqwa yang dinyatakan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dalam ayat tersebut, mereka mendapatkan dua macam hidayah tersebut. Adapun selain orang-orang bertaqwa, tidak mendapatkan hidayah taufiq. Mereka tahu akan kebaikan dan kebenaran tetapi tidak diberi kemudahan untuk beramal dan mengikuti kebaikan serta kebenaran tersebut. Oleh karena itu ditegaskan oleh Syaikh Abdurrahman As Sa'di bahwa hidayah bayan tanpa disertai hidayah taufiq untuk beramal dengannya, maka pada hakikatnya hal demikian bukanlah hidayah, karena kebenaran atau ilmu yang datang kepadanya bukan memberikan kemanfaatan pada dirinya, tetapi mencelakakan dirinya di hadapan Allah.

Kebenaran Al-Qur’an yang berusaha diputarbalikkan artinya oleh tangan-tangan manusia keji sama buruknya seperti tangan-tangan kotor manusia yang memutarbalikkan ayat-ayat Allah dalam Injil, Zabur dan Taurat. Nau’udzubillahi min zaalik.

Usaha seperti itu juga coba dilakukan dengan mengartikan kata dzaalika dengan pemahaman yang umum bahwa semua kitab itu benar, karena dalam ayat itu tidak dikatakan secara harfiah bahwa yang dimaksud adalah Al-Qur’an. Kenapa bisa ? pada waktu ayat itu turun dan selama Rasulullah hidup, kaum muslimin tidak pernah sama sekali memegang kitab selain Al-Qur’an, sehingga sangat jelas bahwa yang dimaksud saat itu adalah Al-Qur’an.

Kaum orientalis yang berusaha mencari-cari bukti kesalahan Al-Qur’an terus berputus asa karena waktunya hanya dihamburkan sia-sia. Dalam ayat yang lain Allah menegaskan lagi dalam firman-Nya : ” Jika sekiranya kitab (Al-Qur’an) berasal selain dari sisi-Ku, niscaya kamu akan menemukan banyak pertentangan didalamnya (QS.annisa:82) ”. Dan Masya Allah, hingga buletin Al-Iftitah edisi kali ini telah terbit, belum ada satu ayatpun dalam al-Qur’an yang menjadi bahan perbincangan karena ayat-ayatNya bertentangan. Apakah anda mau mencoba ? silahkan....

Maka sungguh celaka orang-orang yang telah menyombongkan diri di hadapan Tuhan yang mengubah ayat-ayat yang diturunkan-Nya kepada manusia dengan tangan mereka sendiri, bahkan menghina Tuhan dengan menjadikan nabi-Nya yang mulia sebagai sekutu bagi yang Maha Esa. Wallahu a’lam. (Dari berbagai sumber)


*Penulis adalah Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an LDK-UPIM Universitas Tadulako tahun 2009

GERAKAN ISLAM KAMPUS ; ARUS DERAS YANG TERUS BERGEJOLAK

Oleh : Andika Lawasi

Islam adalah agama yang penuh dengan kultur perjuangan. Bermula dari wahyu yang terasing, dijalankan oleh manusia terpilih, jujur, lagi ummi, diawali dari lokus tempat yang gelap adab, sarat ketertindasan dan keterhimpitan, namun akhirnya sanggup mengubah masyarakat dunia yang semula beku dan rakus menjadi kekuatan yang bergejolak dan kreatif sehingga melahirkan kebudayaan serta peradaban yang unggul dan menggetarkan seluruh dunia yang kala itu telah merasa mapan.

Gerakan dakwah islam di tataran kampus pun ikut juga mengulangi sejarah yang serupa pada saat pertama kali di laksanakan 14 abad silam tatkala agama ini mulai ditebarkan. Penjegalan demi penjegalan serta berbagai intervensi negative dari penguasa rezim orba yang goyah akibat hentakan-hentakan yang menggetarkan kedudukannya jika islam tegak dan bersistem di negeri ini, sempat membuat jejak-jejak dakwah islam terseok-seok dan melemah gemanya. namun, hal tersebut tidak sedikit pun menyurutkan jejak perjuangan dakwah islam. Kemajuan demi kemajuan dapat diraih dengan keistiqomahan yang tinggi, kesabaran yang teruji, serta dengan spirit ketauhidan yang menggebu-gebu dari para pejuang dakwah kampus yang tetap tegar berpijak ditengah-tengah kondisi yang serba sulit.

Tentunya kita masih bisa sedikit mengingat sejarah kelam dari jejak rekam perjuangan dakwah islam khususnya di Indonesia di akhir-akhir dekatnya keruntuhan rezim orba kala itu. Gerakan dakwah di berangus lantaran di anggap menanamkan benih-benih perlawanan yang akan mengganggu stabilitas keamanan dalam negeri. Ketakutan penguasa akan gerakan- gerakan islam, sempat membuat mereka kerepotan dan kebakaran jenggot. Sejumlah kebijakan yang tak bijak dan tak cerdas muncul akibat perasaan yang pengecut ini dan semakin memperlihatkan kepengecutan mereka. Kebijakan mulai dari melarang aktivitas keagamaan, mempersempit lokasi kajian-kajian haraqah, sampai dengan menempuh upaya yang dianggap lebih sistematis, yaitu, dengan menerbitkan undang-undang keormasan No. 8 tahun 1968 yang isinya adalah mengharuskan setiap ormas-ormas kepemudaan dan kemasyarakatan yang ada di Indonesia agar menggunakan pancasila sebagai ideology pokok.

Hal ini tentunya sangat bertentangan dengan apa yang menjadi ruh spirit dan gerakan islam yang banyak bertebaran di Indonesia kala itu. Sudah barang tentu upaya tersebut merupakan langkah “makar “pemerintah terhadap organisasi-organisai islam yang saat itu telah mekar serta melejit dengan sangat pesatnya.

Sampai pada saat ketika rezim orba runtuh dilindas oleh gerakan total reformasi yang banyak melibatkan aktivis dakwah, maka sedikit demi sedikit gerakan dakwah kampus menjadi lebih terbuka, menghentak-hentak, dan terus menggelinding hingga akhirnya memunculkan sebuah kekuatan baru pergerakan keislaman yang lebih progresif, kritis, dan terus menggemakan kebenaran. Kini gerakan dakwah kampus semakin progresif dan siap menggigit kuping penguasa yang tuli terhadap suara-suara kebenaran. ibarat sebuah arus deras yang terus berdenyut dan bergejolak, gerakan dakwah kampus akan terus mengalir dari hati ke hati, dari lisan ke lisan, dari dogma menjadi wacana, serta dari wacana menjadi keniscyaan yang akan mengubah masyarakat beku dan korup menjadi sebuah kekuatan yang bergejolak dan kreatif yang berujung pada lahirnya sebuah masyarakat yang beradab dan berbudaya.

Oleh karena itu, kepada rekan-rekan aktivis dakwah kampus, janganlah

pernah berhenti dalam memperjuangkan dan menggemakan ayat-ayat kebenaran ini. Teruslah menggelindingkan semangat ketauhidan agar nampak di mata mereka mana yang haq dan mana yang bathil. Paculah spirit ideology islam murni agar mampu menyadarkan pikiran yang tumpul, menjadi pelecut semangat dan gerakan pada abad yang mati, serta memacu getar, hidup dan darah pada urat-urat orang yang lembam dalam pikiran agama. Kita jadikan islam sebagai solusi total atas problematika yang mendera umat dan bangsa ini. Kita dengungkan dan terus menggemakan islam sebagai sistem hidup yang lebih unggul. Kita murnikan aqidah islam dari thagut dan bid’ah, kita entaskan umat dari ketertinggalan, serta kita satukan umat dalam anyaman persatuan ikatan ukhuwah islamiyah. Gelindingkan dan gelorakan terus gerakan dakwah ini, ibarat arus deras yang terus berdenyut dan bergejolak, tiada henti, tiada batas…!! Allahu Akbar.

Wallahu a’lam bi ash- shawwab…



Penulis adalah Koord. Departemen Syiar Dakwah Unit Pengkajian Islam Mahasiswa (UPIM).) yang sekarang menimba ilmu di FAPERTA UNTAD





seNd yOur criTiCs N adViCes pLiZzz...!

Your Name :
Your Email :
Subject :
Message :
Image (case-sensitive):