ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِين
” Kitab (Al-Qur’an) ini, tidak ada keraguan padanya, petunjuk
bagi orang-orang yang bertakwa” (Al-Baqarah : 2)
Oleh: Aria Sunny
Allah menciptakan segala sesuatunya di seluruh alam semesta penuh dengan keseimbangan sebagai manifestasi ke Maha Adilan dan ke Maha Bijaksanaan serta keseluruhan Sifat-sifat wajib ketuhanan sekaligus, sehingga tak kan ada satu makhlukpun yang dapat menjangkau ke Maha Besaran Allah dalam lingkup ruang dan waktu, karena Allah sama sekali tidak terikat dengan keterbatasan ”makhluk waktu” nya.
Ada suatu hal yang menarik dari sifat-sifat Allah ini. Karena Dia adalah sang serba Maha, maka tak kan ada satupun yang mampu menandingi ke Maha-anNya. Salah satu sifat yang menarik dariNya adalah sifat keMaha Benaran.
Dalam kalangan scientist terdapat suatu kesimpulan bahwa apa yang telah dikatakan benar, sesungguhnya belumlah mutlak benar. Sesuatu hal adalah benar menurut anggapan relatif disuatu zaman karena pada periode berikutnya terdapat bukti yang memperbaiki kebenaran semula, hingga apa yang kemarin telah benar, kini harus dirubah lagi, dan besok mungkin disempurnakan lagi.
Tingkat keberhasilan dari pencaharian kebenaran ini harus selalu diukur dengan tahap persetujuan antara pernyataan dan kenyataan tentang sesuatu. Kebenaran ilmiah barulah mewakili ataupun memperlihatkan kesanggupan yang telah dicapai disuatu masa.
Karena kebenaran bersifat relatif dalam koridor ruang dan waktu, maka demi memenuhi sifat keseimbangan yang telah tercipta, maka harus ada satu pedoman mutlak yang harus dimiliki dalam lingkup ruang dan waktu, sehingga dengan kebenaran itu dapat menyeimbangkan kesalahan-kesalahan sebagai bukti keadilan. Kebenaran mutlak sebagai bukti keadilan harus ditunjukkan oleh pencipta kebenaran, sang pencipta kebenaran pun tidak perlu repot-repot menampakkan ”diri” nya sehingga kebenaran relatif karena dirinya sendiri ternoda oleh relativitas ruang dan waktu (atau dapat dikatakan dia melecehkan dirinya sendiri). Mungkin karena hal inilah tuhan-tuhan dari beberapa kitab lain sepertinya ”malu-malu” atau memang ”takut” mengakui kitabnya benar sehingga sifat-sifat keadilan dan kebenaran yang seharusnya dimiliki oleh sang Maha menjadi hilang. Oleh sebab itu maka wajah kebenaran yang dimiliki harus ditampakkan sehingga kebenaran abadi menjadi tidak terbatas oleh lingkup ruang dan waktu. Dan ternyata hanya kitab Al-Qur’an yang mampu menjabarkan seluruh kriteria kebenaran itu. Subhanallah...
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas memiliki penafsiran secara rinci sebagai berikut :
1. Dzaalika berarti "ini". Hal demikian banyak terjadi dalam Bahasa Arab. Al Qur’an, bagai penjelas satu-satunya bagi bahasa Arab, tampil dengan uslub "ini". Dalam QS Al Baqarah : 68 Allah menegaskan lagi bahwa ”dzaalika” juga merupakan isyarat yang menunjukkan ini, dan ”ini” yang dimaksud adalah ”al-kitaab” : ” Inilah hukum Allah, Dia memutuskan perkara di antara kamu”.
2. Al-Kitaab, banyak kalangan orientalis sesat yang mengartikan bahwa pengertian Al-Kitaab adalah umum untuk seluruh kitab seperti Injil (Bible) dan Taurat. Ibnu Katsir menegaskan bahwa penafsiran ini sangat jauh dari kebenaran dari kalangan yang sama sekali tidak mengerti kaidah bahasa Arab. Al-Kitaab yang dimaksud di sini jelas adalah Al-Qur’an.
3. Laa raiba Fiihi (Tidak ada keraguan padanya). Yakni tiada kebimbangan di dalamnya. Ada pula ulama yang membaca Dzaalikal kitaabu laa raiba
4. Hudan lil Muttaqin (Petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa). yakni sebagai cahaya bagi orang-orang yang bertakwa, yakni bagi orang-orang mukmin yang memelihara dirinya dari menyekutukan Allah, mengesakanNya, beramal dengan menaati-Nya, takut terhadap azab-Nya, mengharapkan rahmat-Nya, dan menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan-Nya. Makna ini sejalan dengan makna ayat yang sesudahnya, yaitu ayat yang mengandung sifat-sifat orang yang beriman dan bertakwa yang disifati Allah dengan firman-Nya,"(yaitu) orang-orang yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan sholat, dan yang menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka".
Selain uraian yang telah dikemukakan Ibnu Katsir di atas, Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menafsirkan bahwa orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang mendapat manfaat dengan adanya ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat syar’iyah. Hidayah ada dua macam yaitu hidayah bayan dan hidayah taufiq. Dan orang-orang bertaqwa yang dinyatakan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dalam ayat tersebut, mereka mendapatkan dua macam hidayah tersebut. Adapun selain orang-orang bertaqwa, tidak mendapatkan hidayah taufiq. Mereka tahu akan kebaikan dan kebenaran tetapi tidak diberi kemudahan untuk beramal dan mengikuti kebaikan serta kebenaran tersebut. Oleh karena itu ditegaskan oleh Syaikh Abdurrahman As Sa'di bahwa hidayah bayan tanpa disertai hidayah taufiq untuk beramal dengannya, maka pada hakikatnya hal demikian bukanlah hidayah, karena kebenaran atau ilmu yang datang kepadanya bukan memberikan kemanfaatan pada dirinya, tetapi mencelakakan dirinya di hadapan Allah.
Kebenaran Al-Qur’an yang berusaha diputarbalikkan artinya oleh tangan-tangan manusia keji sama buruknya seperti tangan-tangan kotor manusia yang memutarbalikkan ayat-ayat Allah dalam Injil, Zabur dan Taurat. Nau’udzubillahi min zaalik.
Usaha seperti itu juga coba dilakukan dengan mengartikan kata dzaalika dengan pemahaman yang umum bahwa semua kitab itu benar, karena dalam ayat itu tidak dikatakan secara harfiah bahwa yang dimaksud adalah Al-Qur’an. Kenapa bisa ? pada waktu ayat itu turun dan selama Rasulullah hidup, kaum muslimin tidak pernah sama sekali memegang kitab selain Al-Qur’an, sehingga sangat jelas bahwa yang dimaksud saat itu adalah Al-Qur’an.
Kaum orientalis yang berusaha mencari-cari bukti kesalahan Al-Qur’an terus berputus asa karena waktunya hanya dihamburkan sia-sia. Dalam ayat yang lain Allah menegaskan lagi dalam firman-Nya : ” Jika sekiranya kitab (Al-Qur’an) berasal selain dari sisi-Ku, niscaya kamu akan menemukan banyak pertentangan didalamnya (QS.annisa:82) ”. Dan Masya Allah, hingga buletin Al-Iftitah edisi kali ini telah terbit, belum ada satu ayatpun dalam al-Qur’an yang menjadi bahan perbincangan karena ayat-ayatNya bertentangan. Apakah anda mau mencoba ? silahkan....
Maka sungguh celaka orang-orang yang telah menyombongkan diri di hadapan Tuhan yang mengubah ayat-ayat yang diturunkan-Nya kepada manusia dengan tangan mereka sendiri, bahkan menghina Tuhan dengan menjadikan nabi-Nya yang mulia sebagai sekutu bagi yang Maha Esa. Wallahu a’lam. (Dari berbagai sumber)
*Penulis adalah Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an LDK-UPIM Universitas Tadulako tahun 2009
” Kitab (Al-Qur’an) ini, tidak ada keraguan padanya, petunjuk
bagi orang-orang yang bertakwa” (Al-Baqarah : 2)
Oleh: Aria Sunny
Allah menciptakan segala sesuatunya di seluruh alam semesta penuh dengan keseimbangan sebagai manifestasi ke Maha Adilan dan ke Maha Bijaksanaan serta keseluruhan Sifat-sifat wajib ketuhanan sekaligus, sehingga tak kan ada satu makhlukpun yang dapat menjangkau ke Maha Besaran Allah dalam lingkup ruang dan waktu, karena Allah sama sekali tidak terikat dengan keterbatasan ”makhluk waktu” nya.
Ada suatu hal yang menarik dari sifat-sifat Allah ini. Karena Dia adalah sang serba Maha, maka tak kan ada satupun yang mampu menandingi ke Maha-anNya. Salah satu sifat yang menarik dariNya adalah sifat keMaha Benaran.
Dalam kalangan scientist terdapat suatu kesimpulan bahwa apa yang telah dikatakan benar, sesungguhnya belumlah mutlak benar. Sesuatu hal adalah benar menurut anggapan relatif disuatu zaman karena pada periode berikutnya terdapat bukti yang memperbaiki kebenaran semula, hingga apa yang kemarin telah benar, kini harus dirubah lagi, dan besok mungkin disempurnakan lagi.
Tingkat keberhasilan dari pencaharian kebenaran ini harus selalu diukur dengan tahap persetujuan antara pernyataan dan kenyataan tentang sesuatu. Kebenaran ilmiah barulah mewakili ataupun memperlihatkan kesanggupan yang telah dicapai disuatu masa.
Karena kebenaran bersifat relatif dalam koridor ruang dan waktu, maka demi memenuhi sifat keseimbangan yang telah tercipta, maka harus ada satu pedoman mutlak yang harus dimiliki dalam lingkup ruang dan waktu, sehingga dengan kebenaran itu dapat menyeimbangkan kesalahan-kesalahan sebagai bukti keadilan. Kebenaran mutlak sebagai bukti keadilan harus ditunjukkan oleh pencipta kebenaran, sang pencipta kebenaran pun tidak perlu repot-repot menampakkan ”diri” nya sehingga kebenaran relatif karena dirinya sendiri ternoda oleh relativitas ruang dan waktu (atau dapat dikatakan dia melecehkan dirinya sendiri). Mungkin karena hal inilah tuhan-tuhan dari beberapa kitab lain sepertinya ”malu-malu” atau memang ”takut” mengakui kitabnya benar sehingga sifat-sifat keadilan dan kebenaran yang seharusnya dimiliki oleh sang Maha menjadi hilang. Oleh sebab itu maka wajah kebenaran yang dimiliki harus ditampakkan sehingga kebenaran abadi menjadi tidak terbatas oleh lingkup ruang dan waktu. Dan ternyata hanya kitab Al-Qur’an yang mampu menjabarkan seluruh kriteria kebenaran itu. Subhanallah...
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas memiliki penafsiran secara rinci sebagai berikut :
1. Dzaalika berarti "ini". Hal demikian banyak terjadi dalam Bahasa Arab. Al Qur’an, bagai penjelas satu-satunya bagi bahasa Arab, tampil dengan uslub "ini". Dalam QS Al Baqarah : 68 Allah menegaskan lagi bahwa ”dzaalika” juga merupakan isyarat yang menunjukkan ini, dan ”ini” yang dimaksud adalah ”al-kitaab” : ” Inilah hukum Allah, Dia memutuskan perkara di antara kamu”.
2. Al-Kitaab, banyak kalangan orientalis sesat yang mengartikan bahwa pengertian Al-Kitaab adalah umum untuk seluruh kitab seperti Injil (Bible) dan Taurat. Ibnu Katsir menegaskan bahwa penafsiran ini sangat jauh dari kebenaran dari kalangan yang sama sekali tidak mengerti kaidah bahasa Arab. Al-Kitaab yang dimaksud di sini jelas adalah Al-Qur’an.
3. Laa raiba Fiihi (Tidak ada keraguan padanya). Yakni tiada kebimbangan di dalamnya. Ada pula ulama yang membaca Dzaalikal kitaabu laa raiba
4. Hudan lil Muttaqin (Petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa). yakni sebagai cahaya bagi orang-orang yang bertakwa, yakni bagi orang-orang mukmin yang memelihara dirinya dari menyekutukan Allah, mengesakanNya, beramal dengan menaati-Nya, takut terhadap azab-Nya, mengharapkan rahmat-Nya, dan menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan-Nya. Makna ini sejalan dengan makna ayat yang sesudahnya, yaitu ayat yang mengandung sifat-sifat orang yang beriman dan bertakwa yang disifati Allah dengan firman-Nya,"(yaitu) orang-orang yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan sholat, dan yang menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka".
Selain uraian yang telah dikemukakan Ibnu Katsir di atas, Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menafsirkan bahwa orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang mendapat manfaat dengan adanya ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat syar’iyah. Hidayah ada dua macam yaitu hidayah bayan dan hidayah taufiq. Dan orang-orang bertaqwa yang dinyatakan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dalam ayat tersebut, mereka mendapatkan dua macam hidayah tersebut. Adapun selain orang-orang bertaqwa, tidak mendapatkan hidayah taufiq. Mereka tahu akan kebaikan dan kebenaran tetapi tidak diberi kemudahan untuk beramal dan mengikuti kebaikan serta kebenaran tersebut. Oleh karena itu ditegaskan oleh Syaikh Abdurrahman As Sa'di bahwa hidayah bayan tanpa disertai hidayah taufiq untuk beramal dengannya, maka pada hakikatnya hal demikian bukanlah hidayah, karena kebenaran atau ilmu yang datang kepadanya bukan memberikan kemanfaatan pada dirinya, tetapi mencelakakan dirinya di hadapan Allah.
Kebenaran Al-Qur’an yang berusaha diputarbalikkan artinya oleh tangan-tangan manusia keji sama buruknya seperti tangan-tangan kotor manusia yang memutarbalikkan ayat-ayat Allah dalam Injil, Zabur dan Taurat. Nau’udzubillahi min zaalik.
Usaha seperti itu juga coba dilakukan dengan mengartikan kata dzaalika dengan pemahaman yang umum bahwa semua kitab itu benar, karena dalam ayat itu tidak dikatakan secara harfiah bahwa yang dimaksud adalah Al-Qur’an. Kenapa bisa ? pada waktu ayat itu turun dan selama Rasulullah hidup, kaum muslimin tidak pernah sama sekali memegang kitab selain Al-Qur’an, sehingga sangat jelas bahwa yang dimaksud saat itu adalah Al-Qur’an.
Kaum orientalis yang berusaha mencari-cari bukti kesalahan Al-Qur’an terus berputus asa karena waktunya hanya dihamburkan sia-sia. Dalam ayat yang lain Allah menegaskan lagi dalam firman-Nya : ” Jika sekiranya kitab (Al-Qur’an) berasal selain dari sisi-Ku, niscaya kamu akan menemukan banyak pertentangan didalamnya (QS.annisa:82) ”. Dan Masya Allah, hingga buletin Al-Iftitah edisi kali ini telah terbit, belum ada satu ayatpun dalam al-Qur’an yang menjadi bahan perbincangan karena ayat-ayatNya bertentangan. Apakah anda mau mencoba ? silahkan....
Maka sungguh celaka orang-orang yang telah menyombongkan diri di hadapan Tuhan yang mengubah ayat-ayat yang diturunkan-Nya kepada manusia dengan tangan mereka sendiri, bahkan menghina Tuhan dengan menjadikan nabi-Nya yang mulia sebagai sekutu bagi yang Maha Esa. Wallahu a’lam. (Dari berbagai sumber)
*Penulis adalah Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an LDK-UPIM Universitas Tadulako tahun 2009





Tidak ada komentar:
Posting Komentar