Oleh : Armida Abd.Salam
Seringkali dalam keseharian ini, banyak sekali ibrah yang bisa kita jadikan I’tibar menuju fase perjalanan hidup kita. Entah itu kejadian yang disengaja ataupun tidak. Bahkan tingkah seorang anak kecilpun seringkali sarat dengan pelajaran buat kita orang dewasa.
Pernah suatu hari saya melaksanakan rutinitas sy setiap sore di TPA, yang tentunya mengajarkan sedikit ilmu yang kumiliki yaitu baca tulis Alqur’an yang dulu semasa kecil kupelajari dari papa dan mama. saya mendapatkan sebuah pengalaman yang menurut saya begitu berharga..
Ketika saya sedang asyik ngajar santri kelas Alqur’an, tiba-tiba 3 santri saya yang dikelas iqro menarik perhatian saya, bukan karena ribut atau kenakalan mereka seperti biasanya, tapi karena topik pembicaraan mereka yang bikin saya tertawa geli. Sekilas dari pembicaraan mereka yang saya dengar, sepertinya mereka bertiga bercerita tentang super hero mereka, tapi dengan kesan diantara mereka “nggk mau dikalah”, yah…namanya juga anak kecil.
“saya punya naruto yg jago”, yang satunya lagi dengan gaya bicara menantang “saya punya Allah”. Pernyataan santri saya yang kedua ini sempat membuat saya tersentak kaget, bagaimana tidak, dari pernyataannya itu berarti dia paham bahwa Allah adalah super hero yang Maha segala-galanya dan pantas untuk dijagokan. Jarang loh..anak seusianya yang dengan berani menjadikan Allah sebagai ’sang hero’. Tapi satu anak lagi yang membuat saya tersenyum geli, dengan gaya lugunya berkata “saya punya Allah tambah ultra man”.
Duerrrr…nggak kepikiran deh seorang anak kecil menyandingkan Allah dengan tokoh protagonist dalam film produksi Negeri shintoisme Jepang.
Tidak sampai disitu, santri saya yang kedua tadi tiba-tiba bertanya “ustadzah…mana yang lebih jago, Allah atau ultra man?” saat itu otak saya berputar, berusaha mencari jawaban yang kira-kira pas untuk menjawab keingintahuan mereka.
Jadi ingat seorang ummahat yang pernah bilang katanya, pertanyaan anak-anak kadang bikin perut mules. Saking besarnya keinginan mereka untuk memuaskan rasa penasaran dan keingintahuan mereka.
Saat itu sang Maha Hikmah memberi pelajaran padaku, tentang pentingnya mendampingi anak-anak ketika mereka menonton acara TV, karena banyak loh acara TV sekarang sama sekali gk ada nilai edukasinya, bahkan kebanyakan film impor dari negara-negara sekuler yang berkedok film anak2 seperti kartun, robot2 dan sejenisnya hanya bertujuan untuk mencuci otak generasi Islam. So..sebagai ibu n ”calon” ibu harus membentengi generasi kita dengan bekal ilmu-ilmu agama. Membekali anak-anak dengan keimanan, kedisiplinan, dan tanggungjawab jauh lebih berharga ketimbang membekali mereka dengan harta. Mendidik anak agar selalu berada dalam fitrahnya (Islam) tidaklah mudah, Ya, itu semua memang butuh pengorbanan. bahkan Imam Al-Ghazali dalam risalah ayyuhal walad mengumpamakan proses tarbiyah anak ibarat seorang petani yang mencabuti duri-duri dan membuang tumbuhan asing dari tanamannya agar tumbuh dengan baik dan sempurna. Pengorbanan itu semata agar generasi Islam tumbuh dewasa dengan pribadi yang matang, kuat, punya tanggung jawab, dan tentunya taat beragama.
Sekarang ini negara-negara sekuler menjajah kita ummat Islam dari semua lini kehidupan. Mulai dari gaya hidup, fashion, pendidikan, sampai kepada generasi-generasi kita pun tak luput dari bidikan. Nah, untuk hal inilah, Islam menghendaki agar wanita muslimah mengambil peran sebagai pendidik utama bagi generasinya. Karena wanita muslimah adalah pembangun sejati sebuah masyarakat kecil yang bernama keluarga. Keluarga merupakan sekolah kecil. Dalam sekolah ini, pendidik yang paling utama adalah sang ibu. Baik buruknya kepribadian seseorang, banyak bergantung pada didikan ibunya, karena ibulah yang menyemaikan ciri baik atau buruk pada putera-puterinya.
Alangkah indah hidup ini, jika jerih payah seorang ibu dalam menjalankan perannya sebagai madrasatul uula, menghasilkan pemuda-pemudi yang nantinya menjadi cahaya ummat, penerang orang-orang yang berada dalam kegelapan, menjadi penyejuk bagi hati-hati yang gersang, dan menjadi penuntun bagi orang-orang yang sesat.
Buat akhwat fillah, mulai dari sekarang bangun kesadaran untuk mempersiapkan diri agar dapat menjadi ibu yang baik, seorang ibu yang kelak menjadi peneduh jiwa bagi keluarga, yang dapat mengemban amanah Allah serta bertanggungjawab agar generasi menjadi abrar.