BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM...

Sabtu, Juni 13, 2009

WANITA DALAM CENGKERAMAN EMANSIPASI DAN MODERNISASI


Oleh : Armida A.Salam*

Menemukan wanita sholehah di era sekarang ini bagaikan mencari jarum yang hilang ditumpukan jerami. Boleh jadi seorang wanita memiliki kemolekan tubuh dan wajah yang cantik, tetapi belum tentu ia memiliki akhlak yang cantik. Banyaknya pemandangan seronok, dimana-mana wanita yang boleh dikata memiliki body yang aduhai dan wajah yang cantik dengan bangganya mempertontonkan aurat dengan busana yang diadopsi dari negara-negara sekuler yang lagi nge-trend berkedok emansipasi dan modernisasi.

Mungkin terdengar klise dan terkesan lebay, tetapi jika kita kaji secara objektif, permasalahan yang timbul disini adalah bagaimana cara kita menafsirkan emansipasi dan modernisasi.

Terkadang kita melihat sepintas lalu dan menengok dari sisi jendela yang sangat kecil, sehingga lahirlah modernisasi yang keliru ditafsirkan dan emansipasi yang disalah artikan yang berimplikasi dengan kaburnya nilai-nilai akhlakul karimah dan hal-hal yang asusila dipandang estetika, sehingga tidak mengherankan adanya pembauran antara hal-hal yang susila dan asusila dan akhirnya lahirlah wanita-wanita yang menentang etika, terutama etika agama Islam.

Islam tidak antipati dengan emansipasi dan modernisasi, bahkan Islamlah yang mengangkat derajat kaum wanita. Jika kita menilik sejarah sebelum Islam datang, wanita dipandang sebagai sosok yang menjijikkan dan tidak berharga, tidak boleh mendapatkan harta warisan dan tidak berkesempatan untuk memperoleh pendidikan, bahkan dalam riwayat bayi perempuan dikubur hidup-hidup karena dianggap sebagai suatu aib.

Tetapi dengan kedatangan Islam ini, maka jelaslah status seorang wanita dengan diangkatnya derajat ketidakberhargaan ke derajat yang mulia. Wanita berhak mendapatkan warisan seperti halnya laki-laki (yang tentunya telah diatur sesuai proporsinya). Islam juga memberi kesempatan kepada wanita untuk mempeoleh pendidikan setinggi-tingginya. Islam juga menjadikan wanita sebagai sosok yang wajib dihormati dan dimuliakan, yakni dengan kewajiban seorang anak untuk menghormati dan memuliakan ibunya. Bahkan, ”wanita” diabadikan dalam Al-Qur’an dengan nama salah satu surah yakni ”An-nisa”. Kurang apa lagi Islam mengangkat derajat ketidakberhargaan wanita ke derajat mulia????.

Sekarang ini banyak wanita memahami bahwa emansipasi adalah persamaan antara laki-laki dan perempuan dalam segala hal, termasuk dalam hal batasan menutup aurat. Ketika emansipasi dimaknai seperti ini, justru akan mengembalikan wanita ke dalam jurang kehinaan. Bukankah ketika wanita berpakaian serba terbuka, berarti ia telah menjadikan tubuhnya sebagai tontonan gratis yang bisa dinikmati oleh siapapun?

Begitupula halnya dengan modernisasi, Islam memerintahkan agar menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Bukankah Islam memberi signal kepada kita untuk menghasilkan yang terbaik guna kemaslahatan ummat. Konon, dulu manusia berpakaian hanya menutupi (afwan ya) alat vitalnya. Kemudian seiring dengan perkembangan zaman, peradaban manusia pun semakin maju, sehingga muncullah ide untuk membuat pakaian yang menutupi anggota tubuh yang lainnya.

Nah pertanyaannya sekarang, manakah yang disebut modern dan beradab: wanita yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan ataukah wanita yang mempertontonkan tubuhnya lewat busana ala you can see binti anti mati gaya?. Bukankah ketika wanita berpakaian serba terbuka, berarti ia kembali ke zaman primitif dan berperilaku seperti manusia dengan peradaban yang rendah??

Jadi, ketika modernisasi dimaknai sebagai kebebasan berekspresi yang melegalkan pertunjukan aurat perempuan di muka umum, hal itu hanya akan mengembalikan wanita ke posisi yang sangat rendah. Bukankah hukum ekonomi menyebutkan bahwa sesuatu yang didapatkan dengan mudah, maka nilainya sangat rendah dan sebaliknya. Lihatlah saudariku, mutiara harganya mahal karena ia sulit didapatkan dan tersembunyi didasar lautan yang dalam.

Karena itu wanita sholeha senantiasa mempercantik dirinya dengan akhlak yang mulia, karena menyadari bahwa kecantikan hakiki bukan terletak pada wajah yang cantik dan bentuk tubuh yang menawan, tetapi terletak pada hati yang bersih dan akhlak yang mulia.

*Penulis adalah pengurus UPIM staf Depart. Humas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

seNd yOur criTiCs N adViCes pLiZzz...!

Your Name :
Your Email :
Subject :
Message :
Image (case-sensitive):